Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua

ANAK3.COM - Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua. Memiliki anak dengan bakat istimewa merupakan anugerah paling indah bagi orangtua. Namun terkadang, tidak demikian bagi anak. Bakat istimewanya membuat kehidupannya justru tertekan, karena ambisi orangtuanya. Setidaknya ini salah satu pesan yang saya pahami dari film gifted (2017). Film ini dirilis tanggal 7 April 2017. Meski sudah lama, menurutku film ini tetap inspiratif dan berkarakter. Sayang kalau dilewatkan.

Kisah ini bermula di sebuah kota kecil, di teluk pantai Florida. Mary, gadis kecil berusia 7 tahun yang tinggal bersama pamannya yang bernama Frank, menunjukkan bakat yang luar biasa dalam bidang Matematika di hari pertama ia sekolah. Mary pun mendapatkan tawaran beasiswa ke sekolah khusus untuk anak-anak berbakat. Ternyata bakat Mary berasal dari ibunya, seorang matematikawan hebat yang berhasil dalam pemecahan masalah Navier-Stokes, sampai akhirnya memilih bunuh diri saat Mary baru berusia 6 bulan dan menyerahkan hak asuh Mary pada kakaknya, Frank.

film gifted (2017)

Frank meyakini bahwa adiknya, ibu Mary, menginginkan anaknya agar menjalani kehidupan normal, menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya. Alasan inilah yang dipakai Frank untuk menolak tawaran beasiswa bagi Mary. Sampai suatu hari, Evelyn, nenek dari Mary dan ibu dari Frank datang berkunjung dan meminta hak asuh Mary. Frank menolak, tapi Evelyn tetap memaksa untuk mengambil hak asuh Mary, apalagi setelah mengetahui bakat Mary seperti ibunya. Evelyn percaya bahwa Mary adalah satu dari satu miliar keajaiban matematika yang harus diajar secara khusus, sebagai persiapan untuk mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan matematika.

Perebutan hak asuh Mary pun berlanjut sampai ke ranah pengadilan. Di pengadilan, terungkap sisi kelam kehidupan ibunya Mary, yang tertekan karena pola asuh dari neneknya, Evelyn. Ibu Mary kehilangan masa kecil dan remajanya, karena terpaksa mengikuti ambisi Evelyn untuk menjadikan ibu Mary menjadi salah satu matematikawan terkemuka dengan memecahkan salah satu persamaan matematika Navier-Stokes . Ibu Mary tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama teman-temannya, sehingga pernah kabur dari rumah bersama seorang teman lelaki yang disukainya, untuk sekedar bermain ski. Tekanan psikologis inilah yang mengakibatkan ibunya Mary memilih untuk bunuh diri.

Sebelum bunuh diri, Ibunya Mary berhasil memecahkan masalah Navier-Stokes, namun penemuannya disimpan dan hanya Frank yang mengetahuinya. Sampai akhirnya, Frank memberitahukan kepada ibunya, Evelyn, bahwa adiknya sudah berhasil memecahkan masalah tersebut, tapi ia ingin agar penemuannya disimpan dan baru diumumkan setelah kematian Ibunya. Tentu saja Evelyn shock mendengarnya, ia seolah tak percaya jika putrinya begitu membencinya.

Baca juga : Kisah Pencarian Jati Diri Anak

Endingnya, film ini mengakomodir perspektif bahwa anak jenius harus diajar secara khusus, sekaligus bahwa anak jenius pun perlu menikmati masa kecilnya seperti anak-anak normal lainnya. Di akhir film, ada scene Mary mengikuti kuliah bersama mahasiswa dewasa di sebuah Universitas, dan setelahnya Mary pergi ke sekolah biasa dan bermain bersama teman-temannya.

***

Saya baru mengerti bahwa faktor genetik seorang ibu sangat berpengaruh dalam mewariskan kecerdasan pada anak.  Menurut Dr. Ben Hamel, ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, pengaruh tersebut sangat besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibunya. Jadi terbukti shahih ya, bahwa kecerdasan diwariskan, namun begitu pengaruh lingkungan dan pola asuh juga ikut berperan dalam membentuk kecerdasan anak hingga dewasanya. Info penting nih, buat para lelaki yang masih jombo, carilah wanita yang cerdas karena ibu yang cerdas, berpotensi besar melahirkan anak-anak yang cerdas pula...hihi

Bagiku, film ini sangat menarik karena memberikan perspektif bahwa orangtua harus menyayangi anaknya secara benar. Jangan sampai ambisi orangtua menghancurkan kebahagiaan anak. Mungkin ini bisa terjadi di sekeliling kita. Orangtua sangat berambisi agar anaknya sukses dan berprestasi secara akademik. Beragam cara ditempuh, dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai les. Jika anaknya berprestasi, tentu orangtuanya ikut mendapat sanjungan sebagai orangtua yang hebat, orangtua yang berhasil mendidik anaknya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang membersamai anak-anak agar tumbuh kembang dengan baik. Aamiin

Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

ANAK3.COM - Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Founding Fathers NKRI sudah sangat paham bahwa kemajuan sebuah negeri terletak pada pendidikannya. Kita lihat, semua negara maju sangat memperhatikan pendidikan karakter bagi warganya sejak usia dini. Mengapa ini penting? Karena pendidikan karakter pada usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya di masa depan.
pentingnya pendidikan karakter anak usia dini

Menurut pakar pendidikan anak usia dini, usia 0-6 tahun merupakan periode emas, dimana kemampuan otak anak berkembang sangat pesat, mencapai 80%. Pada masa ini, karakter anak mulai terbentuk, dengan menyerap berbagai informasi yang terpapar melalui orang terdekat, keluarga, lingkungan ataupun media. Dapat dikatakan, masa ini adalah masa kritis bagi penanaman karakter seorang anak. Kegagalan dalam mendidik karakter anak di usia dini, akan berdampak buruk pada masa dewasanya.

Maka sudah sepatutnya jika pendidikan karakter harus di mulai dari lingkungan keluarga, sebagai lingkungan yang paling awal memberikan sentuhan bagi tumbuh kembang anak. Peran aktif orangtua diyakini sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Karakter yang baik inilah yang akan melahirkan akhlak mulia, sesuai dengan risalah yang dibawa oleh Rasullullah Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Baca juga : 7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

Orangtua mesti memahami bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Fungsi keluarga sebagai tempat untuk mendidik, mengasuh dan mengembangkan kemampuan anak secara optimal mempunyai peran yang sangat vital bagi kesuksesan pendidikan karakter di lingkungan selanjutnya. Bisa dikatakan, karakter suatu bangsa tergantung dengan pendidikan karakter anak di keluarga.

Kesuksesan keluarga dalam membangun karakter anak sangat dipengaruhi oleh jenis pola asuh yang diterapkan orangtuanya. Berikut ini beberapa sikap atau perilaku yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam rangka pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga:
  1. Religus, adalah sikap dan perilaku taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Ini adalah pondasi utama dalam pembentukan karakter anak usia dini agar ia menjadi makhluk yang taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhannya, toleran dan saling menghargai dengan pemeluk agama lain. Orangtua dapat menanamkan perilaku ini dengan mulai dari hal-hal kecil, misalnya membiasakan anak untuk berdoa setiap memulai aktifitas.
  2. Jujur, adalah suatu perilaku yang menunjukkan kesesuaian antara kata dan perbuatan, sehingga termasuk dalam golongan orang yang dapat dipercaya. Contoh paling konkret adalah diri Rasullullah Muhammad SAW, beliau sudah mendapat gelar Al-Amin dari penduduk Mekkah, yang artinya seorang laki-laki yang dapat dipercaya, amanah dan jujur. Gelar ini beliau terima, jauh sebelum diangkat sebagai Rasul.
  3. Disiplin, yaitu perilaku untuk tertib dan patuh terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku. Perilaku ini bisa dikembangkan di lingkungan keluarga, misalnya dengan cara membiasakan anak usia dini agar mengembalikan dan menyimpan barang-barang mainannya pada tempatnya semula. 
  4. Kerja Keras, yaitu suatu perilaku yang menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Orangtua hendaknya bisa memotivasi anak untuk selalu bersungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya, tidak mudah menyerah jika ada hambatan ataupun kendala. Perilaku ini sangat menentukan kesuksesan anak dalam menghadapi tantangan di masa depan. Perilaku ini dapat dikembangkan dengan membiasakan anak usia dini untuk melakukan sendiri apa yang sudah bisa dilakukannya, tanpa perlu dibantu lagi.
  5. Mandiri, yaitu suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung kepada orang lain. Orangtua dapat mengembangkan perilaku anak ini dengan cara memberikan tugas-tugas yang sekiranya sudah mampu dilaksanakan oleh anak. Misalnya anak SD kelas 1, mestinya sudah mandiri dalam hal berpakaian, menyiapkan buku-buku dan peralatan sekolahnya sendiri.
  6. Rasa Ingin Tahu, yaitu sikap dan tindakan untuk mengetahui lebih mendalam dari sesuatu yang dipelajarinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan cara yang sederhana, misalnya saat anak sedang menggambar dengan cat air, maka bisa ditunjukkan terbentuknya warna baru dengan mencampurkan 2 jenis warna primer, warna biru dan merah akan menghasilkan warna ungu. Warna merah dan kuning akan menghasilkan warna orange. Warna kuning dan biru akan menghasilkan warna hijau. Eksprerimen kecil seperti ini tentu akan menumbuhkan rasa ingin tahu bagi anak usia dini.
  7. Bersahabat dan Komunikatif, yaitu suatu sikap atau perilaku yang menunjukkan rasa senang untuk bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak untuk sering bertemu dengan orang lain di luar lingkungan keluarga, misalnya dengan silaturahim kepada kerabat atau teman, atau mengikutkan anak-anak usia SD pada kegiatan di luar sekolah, contohnya kegiatan eskul, atau super camp pada saat libur sekolah.
  8. Gemar Membaca, yaitu kebiasaan untuk membaca buku-buku yang memiliki nilai kebaikan bagi dirinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak secara berkala untuk berbelanja buku di toko buku, dan membiasakan untuk tamat menyelesaikan satu buku misalnya sebulan sekali, di luar buku-buku sekolah. Setelah selesai membaca buku, mintalah ke anak untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Dengan demikian orangtua bisa mengetahui seberapa jauh pemahaman anak terhadap buku yang dibacanya dan nilai-nilai apa yang bisa diambil sebagai pelajaran. Jika anak usia dini belum bisa membaca sendiri, maka orangtua lah yang bertugas untuk membacakan buku-buku agar mereka terbiasa dengan budaya membaca.
Baca juga : Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

Ke delapan sikap atau perilaku di atas dapat ditanamkam kepada anak secara perlahan namun konsisten, agar karakter anak dapat terbentuk sejak usia dini. Dan masih banyak lagi sikap dan perilaku yang baik, yang dapat ditanamkan kepada anak. Inshaa Alloh, jika ini berhasil diterapkan di lingkungan keluarga, maka anak akan lebih mudah menerima pendidikan pada jenjang lingkungan berikutnya.

Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

ANAK3.COM - Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak. Tak terasa, kurang dari sebulan lagi, Ramadhan akan kembali menyapa kita. Bulan yang penuh dengan keistimewaan, sehingga di bulan inilah Rasullullah bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan amalan lainnya tidak seperti di bulan yang lain, dan bersungguh-sungguh pula pada hari-hari sepuluh akhir Ramadhan tidak seperti hari lainnya. (HR. Muslim)

Orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa dari mulai terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari, dan disunnahkan untuk memperbanyak amalan lainnya, seperti shalat, tadarus Al Qur’an dan bersedekah. Tak salah kiranya, kalau Ramadhan dikatakan sebagai bulan pendidikan untuk jasmani dan ruhani. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kita dan keluarga untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh secara kualitas dan kuantitas.

persiapan menyambut ramadhan bersama anak

Maka sudah sepatutnya jika kita bersungguh-sungguh melibatkan anak dalam melakukan persiapan menyambut bulan Ramadhan, agar mereka bisa mempersiapkan secara fisik dan mental dengan rasa optimis dan riang gembira, sehingga dapat memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Berikut beberapa persiapan yang dapat kita lakukan bersama anak:

1. Mengajak anak untuk beberes rumah. Persiapan ini diperlukan untuk menciptakan suasana rumah yang lebih fresh dan bersih, sehingga diharapkan dapat meningkatkan semangat anak dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Persiapan ini juga dapat digunakan untuk merapikan buku-buku anak dan peralatan gambar, agar nantinya lebih mudah jika mau dimanfaatkan untuk mengisi waktu selama menjalani ibadah puasa.

Baca juga : Hikmah Sulit Mendapatkan Pekerjaan

2. Menceritakan keutamaan-keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, agar anak-anak semakin termotivasi menjalani ibadah. Mereka juga perlu diajarkan makna berpuasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan hawa nafsu yang kurang baik, seperti marah, menggunjing orang lain (ghibah) dan lainnya.

3. Menyusun agenda kegiatan di rumah selama bulan Ramadhan. Agenda dapat disusun secara harian dan juga mingguan. Penyusunan agenda ini hendaknya benar-benar melibatkan anak, dan disesuaikan dengan usia mereka, agar mereka memiliki komitmen untuk melaksanakannya. Contoh agenda harian, misalnya:
  • Bangun jam 03.00 WIB, lalu membantu menyiapkan makan dan minum untuk sahur. Anak SD yang sudah berusia 10 tahun, sepertinya sudah bisa diberikan tugas, misalnya membuatkan teh manis hangat untuk semua anggota keluarga.
  • Selesai bersantap sahur, kemudian persiapan untuk shalat Shubuh berjamaah. Untuk anak laki-laki, biasakan untuk ikut ayahnya, shalat berjamaah di Mesjid.
  • Selesai shalat Shubuh, hendaknya dilanjutkan dengan tadarus Al Qur’an. Selama bulan Ramadhan, biasanya kami merubah jadwal tadarus anak-anak, dari biasanya sehabis shalat Maghrib menjadi sehabis shalat Shubuh. Ini kami lakukan, karena setelah Maghrib, waktunya kami gunakan untuk istirahat sebentar, sebelum menjalani shalat Isya dan shalat Tarawih. 
  • Sepulang sekolah, usahakan agar anak istirahat dan tidur siang. Menjelang berbuka puasa, libatkan anak untuk ikut mempersiapkan makanan dan minuman. Untuk berbuka puasa, jika ada cukup dengan beberapa butir kurma dan teh manis hangat. Kurma sangat baik sebagai makanan pembuka, karena menurut penelitian, kandungan glukosanya langsung bisa diserap oleh tubuh, sehingga tubuh langsung mendapatkan asupan energi. Minuman hangat juga bagus untuk saluran pencernaan. Melibatkan anak dalam persiapan menjelang berbuka puasa, sangat baik untuk mengajarkan anak-anak nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga, agar saling membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  
  • Setelah berbuka puasa secukupnya, ajak anak-anak untuk segera melaksanakan shalat Maghrib, agar tidak tertinggal waktu shalatnya. Selesai shalat Maghrib, baru menyantap nasi dan lauk pauk secukupnya, tidak sampai kekenyangan agar makanan dapat dicerna dengan baik.
  • Kemudian persiapan menunaikan shalat Isya dan shalat Taraweh. Setelah itu dilanjutkan dengan murojaah juz ke 30 atau menambah hafalan baru, meski hanya 2-3 ayat.
  • Anak-anak juga sebaiknya dibiasakan agar tidur malam dengan teratur dan tidak terlalu banyak menonton TV. 

Baca juga : Memaknai Rezeki dan Cara Menggapainya

4. Jika anak-anak libur sekolah, maka siang harinya, bisa disusun kegiatan dengan agenda berikut:
  • Mengikutkan anak pada kegiatan pesantren Ramadhan. Kegiatan seperti ini biasanya marak di kota-kota besar. Hampir semua masjid besar mengadakan kegiatan pesantren untuk anak-anak. Biasanya sekitar satu minggu. Anak sulung saya, sejak kelas 1 SD, sudah saya ikutkan kegiatan seperti ini, dan dia enjoy, karena kegiatannya memang tidak monoton. Beberapa kegiatan pesantren Ramadhan untuk anak SD, biasanya diisi dengan tadarus, bercerita, mewarnai, fun games dan menonton film. Kegiatan inilah yang membuat anak-anak antusias mengikutinya. Selain itu, mereka juga mendapatkan teman-teman baru.
  •  Jika memiliki uang lebih, tak ada salahnya mengajak anak-anak ke toko buku untuk membeli buku kesukaannya. Orangtua juga perlu menceritakan kisah-kisah Nabi dan sahabat dalam berdakwah, agar timbul keinginan mereka, untuk dapat mencontoh akhlak Nabi dan sahabat dalam berdakwah.
  • Sesekali ajaklah anak untuk ngabuburit, tentunya ngabuburit yang berfaedah. Kalau di Pusdai Bandung, setiap sore selama Ramadhan pasti ramai, karena banyaknya penjual makanan. Selain itu juga banyak yang menyewakan mainan anak-anak, seperti mobil-mobilan listrik, skuter atau naik kuda keliling taman. Saya terkadang mengajak anak-anak main ke situ agar mereka bergembira menjalani puasa.
5. Orangtua hendaknya memperhatikan kondisi kesehatan anak dengan seksama, dengan cara memberikan makanan yang sehat dan bergizi, kalau perlu ditambahkan dengan rutin minum madu atau vitamin lainnya.

Demikian beberapa persiapan menyambut bulan Ramadhan bersama anak, yang dapat dilakukan. Tentu saja persiapan-persiapan tersebut dapat dilakukan jika kita sebagai  orangtua mampu melakukan pendekatan kepada anak secara tepat. Semoga kita semua dan keluarga diberikan kesehatan, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, bagi yang menjalankannya.

7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak. Orangtua yang masih memiliki anak usia dini tentu tidak asing dengan berbagai polah sang anak. Terkadang anak sangat susah untuk berdiam diri, mereka selalu bergerak ke sana sini. Hampir sebagian besar rumah yang memiliki anak kecil, kondisinya berantakan. Mainan berserakan di banyak tempat. Meski sudah dibereskan, palingan hanya bertahan 1-2 jam. Setelah itu, berantakan lagi. Memang begitulah keseharian si kecil, energinya seakan tak pernah habis.

Untuk menyalurkan energi yang dimiliki anak, tak ada salahnya jika mengikutkan anak pada kegiatan olahraga beladiri. Saya mengikutkan Sulung pada beladiri Taekwondo pada usia 7 tahun, saat memasuki kelas 1 SD. Kebetulan di sekolahnya ada beragam kegiatan ekstrakurikuler, dari seni, olahraga sampai sains. Ada beberapa yang kuingat, seperti : Get Colouring bagi yang suka mewarnai, melukis sekaligus belajar bahasa Inggris, ada Sinematografi, Robotic, Pencak Silat, Karate, Taekwondo, Futsal, Hoki dan beberapa lagi yang tak kuingat.

Manfaat berlatih beladiri bagi perkembangan karakter anak

Awalnya, Sulung memilih Futsal dan Robotic, tapi saat itu saya memberikan alternatif lain agar memilih Futsal dan Taekwondo saja. Mengapa tidak robotic? Karena Sulung memiliki energi yang besar. Tenaganya seolah tak pernah habis, pulang sekolah TK, bukannya istirahat tapi langsung main sepeda di depan rumah. Alhamdulillah, lingkungan rumah kami merupakan komplek kecil dengan hanya sekitar 25 rumah, sehingga jalanan di dalam komplek masih relatif aman, dipakai untuk main sepeda. Setelah bersepeda dan teman-teman sekomplek yang bersekolah di  SD pulang, biasanya lanjut bermain bola. Jadi itulah alasan kami, memilihkan ekskul yang menitik-beratkan pada olah tubuh.

Olahraga beladiri bagi anak juga sangat bagus, karena bermanfaat bagi kesehatan, dan menjadikan motoriknya lebih kuat. Hampir semua beladiri memiliki gerakan; memukul, menendang, melompat, memutar dan menjaga keseimbangan. Dan pada saat pemanasan, biasanya ada gerakan untuk melemaskan dan menguatkan otot-otot tubuh, misalnya dengan berlari, push up, sit up dan gerakan lainnya. Tentu saja gerakan tersebut sangat baik, untuk melatih motorik anak menjadi lebih kuat, dan cekatan. Dengan demikian, anak memiliki tubuh yang sehat dan kebugarannya juga meningkat. Anak pun tidak mudah sakit, karena daya tahan tubuh meningkat.

Baca juga : Manfaat Bercerita Bagi Anak Balita

Selain bermanfaat bagi kesehatan tubuh, berlatih beladiri juga sangat baik untuk perkembangan karakter anak, seperti :
  1. Menumbuhkan keberanian. Berlatih beladiri tentu bukan hanya sekedar melatih jurus-jurus atau gerakan-gerakan memukul, menendang, menghindar atau bertahan, tetapi juga melatih mentalnya. Misalnya saat ujian kenaikan tingkat salah satu perguruan pencak silat di daerahku dulu, para peserta ujian bersama-sama naik truk ke lokasi ujian di dekat pantai. Dua kilometer sebelum sampai ke lokasi, para peserta disuruh berlari sampai ke lokasi ujian. Sampai di lokasi, peserta ujiansemua diuji gerakan jurusnya, bahkan untuk tingkat yang lumayan tinggi, mereka dilatih untuk bertarung. Terkadang mereka harus melawan temannya yang berbadan lebih tinggi dan besar. Dari pertarungan ini, mereka belajar untuk berani menghadapi lawannya, berani mengambil keputusan kapan menghindar, kapan mesti menyerang. Mereka harus cepat berani mengambil inisiatif sebelum lawan mengalahkannya.
  2. Menumbuhkan kepercayaan diri. Seiring dengan latihan yang kontinyu, tentu kemampuan beladiri anak akan meningkat,sehingga kepercayaan dirinya otomatis ikut meningkat. Apalagi jika sudah terbiasa dengan lawan tanding yang berbadan lebih besar. Meski begitu, orangtua juga tetap harus ikut mengawasi, agar anak tetap rendah hati, bukan malah sombong dan semena-mena terhadap temannya yang lain, karena memiliki keahlian beladiri. 
  3. Menumbuhkan sportifitas. Semua cabang olahraga pasti mengajarkan nilai-nilai sportifitas. Ini sangat bagus untuk perkembangan anak, karena di dalam sportifitas terkandung makna jujur untuk mengakui kehebatan lawan. Adil dan tidak curang dalam berkompetisi, serta punya etika baik dalam merayakan kemenangan maupun menerima kekalahan.
  4. Menumbuhkan ketenangan. Berlatih beladiri akan mengajarkan anak untuk selalu fokus dengan diri dan lingkungannya. Mereka terlatih dengan semua gerakan beladiri yang harus dilakukan secara sempurna, karena kalau tidak, bisa jadi gerakan tersebut akan menimbulkan cedera. Dan gerakan bisa sempurna, jika terus berlatih, fokus dan tenang menghadapi semua kondisi. Ketenangan ini muncul seiring dengan kemampuan anak mengenal dirinya sendiri, baik kelebihan maupun kekurangannya.
  5. Menumbuhkan kedisiplinan. Berlatih beladiri secara otomatis akan mengajarkan kedisplinan pada anak. Mereka harus tepat waktu mengikuti jadwal latihan dan sungguh-sungguh menjalaninya, karena kedisiplinan merupakan salah satu kunci sukses dalam menguasai ilmu beladiri.
  6. Menumbuhkan kemampuan kerjasama. Saat berlatih beladiri, para pelatih biasanya menginstruksikan untuk melakukan gerakan-gerakan secara bersama-sama. Jika ada yang belum hafal atau gerakannya tidak sama, maka bukan hanya dirinya yang akan kena sanksi, tetapi kadang semuanya. Sehingga mereka terlatih untuk bekerjasama agar dapat mengikuti instruksi pelatih. Mereka juga diajarkan untuk menyiapkan tempat latihan dan menjaga kebersihan serta ketertiban tempat latihan secara bersama-sama. Apalagi jika ada perlombaan beladiri untuk kategori beregu (grup), kekompakan dan kerjasama mereka akan semakin teruji.
  7. Menumbuhkan kemampuan bersosialisasi. Saat mengikuti latihan beladiri, anak akan bertemu dan berinteraksi dengan teman sebaya, teman yang lebih muda atau lebih dewasa dan pelatih. Interaksi semacam itu tentu sangat bagus untuk mengasah kemampuan bersosialisasinya, sehingga diharapkan anak akan mudah bergaul dengan semua kalangan.
Baca juga : Membiasakan Anak Hidup Sederhana

Nah jika anak sudah siap untuk berlatih beladiri, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
  1. Saat berangkat berlatih, pastikan kondisi kesehatan anak dalam keadaan fit. Jika kurang fit, lebih baik minta ijin kepada pelatih untuk sementara tidak mengikuti latihan. Ini penting agar anak tidak mengalami cedera saat latihan.
  2. Jika anak mau, biasakan membawa bekal makanan ringan dan minuman. Saat latihan pasti kondisi tubuh anak akan banyak mengeluarkan cairan keringat, maka terpenting sih, bekal air putih, untuk mencegah dehidrasi. Bekal makanan ringan juga perlu agar anak tidak jajan sembarangan.
  3. Selalu ingatkan dengan bahasa yang lembut, agar tetap rendah hati meski memiliki kemampuan beladiri.
Demikian, sekedar sharing untuk para orangtua yang mau mengikutkan anaknya berlatih beladiri ataupun yang sudah berlatih. Semoga latihannya konsisten. Inshaa Alloh, dengan bimbingan pelatih dan orangtua, berlatih beladiri akan membuat tubuh anak lebih bugar dan perkembangan karakternya pun menjadi lebih baik. Aamiin