Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

ANAK3.COM - Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Founding Fathers NKRI sudah sangat paham bahwa kemajuan sebuah negeri terletak pada pendidikannya. Kita lihat, semua negara maju sangat memperhatikan pendidikan karakter bagi warganya sejak usia dini. Mengapa ini penting? Karena pendidikan karakter pada usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya di masa depan.
pentingnya pendidikan karakter anak usia dini

Menurut pakar pendidikan anak usia dini, usia 0-6 tahun merupakan periode emas, dimana kemampuan otak anak berkembang sangat pesat, mencapai 80%. Pada masa ini, karakter anak mulai terbentuk, dengan menyerap berbagai informasi yang terpapar melalui orang terdekat, keluarga, lingkungan ataupun media. Dapat dikatakan, masa ini adalah masa kritis bagi penanaman karakter seorang anak. Kegagalan dalam mendidik karakter anak di usia dini, akan berdampak buruk pada masa dewasanya.

Maka sudah sepatutnya jika pendidikan karakter harus di mulai dari lingkungan keluarga, sebagai lingkungan yang paling awal memberikan sentuhan bagi tumbuh kembang anak. Peran aktif orangtua diyakini sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Karakter yang baik inilah yang akan melahirkan akhlak mulia, sesuai dengan risalah yang dibawa oleh Rasullullah Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Baca juga : 7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

Orangtua mesti memahami bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Fungsi keluarga sebagai tempat untuk mendidik, mengasuh dan mengembangkan kemampuan anak secara optimal mempunyai peran yang sangat vital bagi kesuksesan pendidikan karakter di lingkungan selanjutnya. Bisa dikatakan, karakter suatu bangsa tergantung dengan pendidikan karakter anak di keluarga.

Kesuksesan keluarga dalam membangun karakter anak sangat dipengaruhi oleh jenis pola asuh yang diterapkan orangtuanya. Berikut ini beberapa sikap atau perilaku yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam rangka pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga:
  1. Religus, adalah sikap dan perilaku taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Ini adalah pondasi utama dalam pembentukan karakter anak usia dini agar ia menjadi makhluk yang taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhannya, toleran dan saling menghargai dengan pemeluk agama lain. Orangtua dapat menanamkan perilaku ini dengan mulai dari hal-hal kecil, misalnya membiasakan anak untuk berdoa setiap memulai aktifitas.
  2. Jujur, adalah suatu perilaku yang menunjukkan kesesuaian antara kata dan perbuatan, sehingga termasuk dalam golongan orang yang dapat dipercaya. Contoh paling konkret adalah diri Rasullullah Muhammad SAW, beliau sudah mendapat gelar Al-Amin dari penduduk Mekkah, yang artinya seorang laki-laki yang dapat dipercaya, amanah dan jujur. Gelar ini beliau terima, jauh sebelum diangkat sebagai Rasul.
  3. Disiplin, yaitu perilaku untuk tertib dan patuh terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku. Perilaku ini bisa dikembangkan di lingkungan keluarga, misalnya dengan cara membiasakan anak usia dini agar mengembalikan dan menyimpan barang-barang mainannya pada tempatnya semula. 
  4. Kerja Keras, yaitu suatu perilaku yang menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Orangtua hendaknya bisa memotivasi anak untuk selalu bersungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya, tidak mudah menyerah jika ada hambatan ataupun kendala. Perilaku ini sangat menentukan kesuksesan anak dalam menghadapi tantangan di masa depan. Perilaku ini dapat dikembangkan dengan membiasakan anak usia dini untuk melakukan sendiri apa yang sudah bisa dilakukannya, tanpa perlu dibantu lagi.
  5. Mandiri, yaitu suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung kepada orang lain. Orangtua dapat mengembangkan perilaku anak ini dengan cara memberikan tugas-tugas yang sekiranya sudah mampu dilaksanakan oleh anak. Misalnya anak SD kelas 1, mestinya sudah mandiri dalam hal berpakaian, menyiapkan buku-buku dan peralatan sekolahnya sendiri.
  6. Rasa Ingin Tahu, yaitu sikap dan tindakan untuk mengetahui lebih mendalam dari sesuatu yang dipelajarinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan cara yang sederhana, misalnya saat anak sedang menggambar dengan cat air, maka bisa ditunjukkan terbentuknya warna baru dengan mencampurkan 2 jenis warna primer, warna biru dan merah akan menghasilkan warna ungu. Warna merah dan kuning akan menghasilkan warna orange. Warna kuning dan biru akan menghasilkan warna hijau. Eksprerimen kecil seperti ini tentu akan menumbuhkan rasa ingin tahu bagi anak usia dini.
  7. Bersahabat dan Komunikatif, yaitu suatu sikap atau perilaku yang menunjukkan rasa senang untuk bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak untuk sering bertemu dengan orang lain di luar lingkungan keluarga, misalnya dengan silaturahim kepada kerabat atau teman, atau mengikutkan anak-anak usia SD pada kegiatan di luar sekolah, contohnya kegiatan eskul, atau super camp pada saat libur sekolah.
  8. Gemar Membaca, yaitu kebiasaan untuk membaca buku-buku yang memiliki nilai kebaikan bagi dirinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak secara berkala untuk berbelanja buku di toko buku, dan membiasakan untuk tamat menyelesaikan satu buku misalnya sebulan sekali, di luar buku-buku sekolah. Setelah selesai membaca buku, mintalah ke anak untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Dengan demikian orangtua bisa mengetahui seberapa jauh pemahaman anak terhadap buku yang dibacanya dan nilai-nilai apa yang bisa diambil sebagai pelajaran. Jika anak usia dini belum bisa membaca sendiri, maka orangtua lah yang bertugas untuk membacakan buku-buku agar mereka terbiasa dengan budaya membaca.
Baca juga : Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

Ke delapan sikap atau perilaku di atas dapat ditanamkam kepada anak secara perlahan namun konsisten, agar karakter anak dapat terbentuk sejak usia dini. Dan masih banyak lagi sikap dan perilaku yang baik, yang dapat ditanamkan kepada anak. Inshaa Alloh, jika ini berhasil diterapkan di lingkungan keluarga, maka anak akan lebih mudah menerima pendidikan pada jenjang lingkungan berikutnya.

Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

ANAK3.COM - Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak. Tak terasa, kurang dari sebulan lagi, Ramadhan akan kembali menyapa kita. Bulan yang penuh dengan keistimewaan, sehingga di bulan inilah Rasullullah bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan amalan lainnya tidak seperti di bulan yang lain, dan bersungguh-sungguh pula pada hari-hari sepuluh akhir Ramadhan tidak seperti hari lainnya. (HR. Muslim)

Orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa dari mulai terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari, dan disunnahkan untuk memperbanyak amalan lainnya, seperti shalat, tadarus Al Qur’an dan bersedekah. Tak salah kiranya, kalau Ramadhan dikatakan sebagai bulan pendidikan untuk jasmani dan ruhani. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kita dan keluarga untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh secara kualitas dan kuantitas.

persiapan menyambut ramadhan bersama anak

Maka sudah sepatutnya jika kita bersungguh-sungguh melibatkan anak dalam melakukan persiapan menyambut bulan Ramadhan, agar mereka bisa mempersiapkan secara fisik dan mental dengan rasa optimis dan riang gembira, sehingga dapat memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Berikut beberapa persiapan yang dapat kita lakukan bersama anak:

1. Mengajak anak untuk beberes rumah. Persiapan ini diperlukan untuk menciptakan suasana rumah yang lebih fresh dan bersih, sehingga diharapkan dapat meningkatkan semangat anak dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Persiapan ini juga dapat digunakan untuk merapikan buku-buku anak dan peralatan gambar, agar nantinya lebih mudah jika mau dimanfaatkan untuk mengisi waktu selama menjalani ibadah puasa.

Baca juga : Hikmah Sulit Mendapatkan Pekerjaan

2. Menceritakan keutamaan-keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, agar anak-anak semakin termotivasi menjalani ibadah. Mereka juga perlu diajarkan makna berpuasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan hawa nafsu yang kurang baik, seperti marah, menggunjing orang lain (ghibah) dan lainnya.

3. Menyusun agenda kegiatan di rumah selama bulan Ramadhan. Agenda dapat disusun secara harian dan juga mingguan. Penyusunan agenda ini hendaknya benar-benar melibatkan anak, dan disesuaikan dengan usia mereka, agar mereka memiliki komitmen untuk melaksanakannya. Contoh agenda harian, misalnya:
  • Bangun jam 03.00 WIB, lalu membantu menyiapkan makan dan minum untuk sahur. Anak SD yang sudah berusia 10 tahun, sepertinya sudah bisa diberikan tugas, misalnya membuatkan teh manis hangat untuk semua anggota keluarga.
  • Selesai bersantap sahur, kemudian persiapan untuk shalat Shubuh berjamaah. Untuk anak laki-laki, biasakan untuk ikut ayahnya, shalat berjamaah di Mesjid.
  • Selesai shalat Shubuh, hendaknya dilanjutkan dengan tadarus Al Qur’an. Selama bulan Ramadhan, biasanya kami merubah jadwal tadarus anak-anak, dari biasanya sehabis shalat Maghrib menjadi sehabis shalat Shubuh. Ini kami lakukan, karena setelah Maghrib, waktunya kami gunakan untuk istirahat sebentar, sebelum menjalani shalat Isya dan shalat Tarawih. 
  • Sepulang sekolah, usahakan agar anak istirahat dan tidur siang. Menjelang berbuka puasa, libatkan anak untuk ikut mempersiapkan makanan dan minuman. Untuk berbuka puasa, jika ada cukup dengan beberapa butir kurma dan teh manis hangat. Kurma sangat baik sebagai makanan pembuka, karena menurut penelitian, kandungan glukosanya langsung bisa diserap oleh tubuh, sehingga tubuh langsung mendapatkan asupan energi. Minuman hangat juga bagus untuk saluran pencernaan. Melibatkan anak dalam persiapan menjelang berbuka puasa, sangat baik untuk mengajarkan anak-anak nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga, agar saling membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  
  • Setelah berbuka puasa secukupnya, ajak anak-anak untuk segera melaksanakan shalat Maghrib, agar tidak tertinggal waktu shalatnya. Selesai shalat Maghrib, baru menyantap nasi dan lauk pauk secukupnya, tidak sampai kekenyangan agar makanan dapat dicerna dengan baik.
  • Kemudian persiapan menunaikan shalat Isya dan shalat Taraweh. Setelah itu dilanjutkan dengan murojaah juz ke 30 atau menambah hafalan baru, meski hanya 2-3 ayat.
  • Anak-anak juga sebaiknya dibiasakan agar tidur malam dengan teratur dan tidak terlalu banyak menonton TV. 

Baca juga : Memaknai Rezeki dan Cara Menggapainya

4. Jika anak-anak libur sekolah, maka siang harinya, bisa disusun kegiatan dengan agenda berikut:
  • Mengikutkan anak pada kegiatan pesantren Ramadhan. Kegiatan seperti ini biasanya marak di kota-kota besar. Hampir semua masjid besar mengadakan kegiatan pesantren untuk anak-anak. Biasanya sekitar satu minggu. Anak sulung saya, sejak kelas 1 SD, sudah saya ikutkan kegiatan seperti ini, dan dia enjoy, karena kegiatannya memang tidak monoton. Beberapa kegiatan pesantren Ramadhan untuk anak SD, biasanya diisi dengan tadarus, bercerita, mewarnai, fun games dan menonton film. Kegiatan inilah yang membuat anak-anak antusias mengikutinya. Selain itu, mereka juga mendapatkan teman-teman baru.
  •  Jika memiliki uang lebih, tak ada salahnya mengajak anak-anak ke toko buku untuk membeli buku kesukaannya. Orangtua juga perlu menceritakan kisah-kisah Nabi dan sahabat dalam berdakwah, agar timbul keinginan mereka, untuk dapat mencontoh akhlak Nabi dan sahabat dalam berdakwah.
  • Sesekali ajaklah anak untuk ngabuburit, tentunya ngabuburit yang berfaedah. Kalau di Pusdai Bandung, setiap sore selama Ramadhan pasti ramai, karena banyaknya penjual makanan. Selain itu juga banyak yang menyewakan mainan anak-anak, seperti mobil-mobilan listrik, skuter atau naik kuda keliling taman. Saya terkadang mengajak anak-anak main ke situ agar mereka bergembira menjalani puasa.
5. Orangtua hendaknya memperhatikan kondisi kesehatan anak dengan seksama, dengan cara memberikan makanan yang sehat dan bergizi, kalau perlu ditambahkan dengan rutin minum madu atau vitamin lainnya.

Demikian beberapa persiapan menyambut bulan Ramadhan bersama anak, yang dapat dilakukan. Tentu saja persiapan-persiapan tersebut dapat dilakukan jika kita sebagai  orangtua mampu melakukan pendekatan kepada anak secara tepat. Semoga kita semua dan keluarga diberikan kesehatan, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, bagi yang menjalankannya.

7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak. Orangtua yang masih memiliki anak usia dini tentu tidak asing dengan berbagai polah sang anak. Terkadang anak sangat susah untuk berdiam diri, mereka selalu bergerak ke sana sini. Hampir sebagian besar rumah yang memiliki anak kecil, kondisinya berantakan. Mainan berserakan di banyak tempat. Meski sudah dibereskan, palingan hanya bertahan 1-2 jam. Setelah itu, berantakan lagi. Memang begitulah keseharian si kecil, energinya seakan tak pernah habis.

Untuk menyalurkan energi yang dimiliki anak, tak ada salahnya jika mengikutkan anak pada kegiatan olahraga beladiri. Saya mengikutkan Sulung pada beladiri Taekwondo pada usia 7 tahun, saat memasuki kelas 1 SD. Kebetulan di sekolahnya ada beragam kegiatan ekstrakurikuler, dari seni, olahraga sampai sains. Ada beberapa yang kuingat, seperti : Get Colouring bagi yang suka mewarnai, melukis sekaligus belajar bahasa Inggris, ada Sinematografi, Robotic, Pencak Silat, Karate, Taekwondo, Futsal, Hoki dan beberapa lagi yang tak kuingat.

Manfaat berlatih beladiri bagi perkembangan karakter anak

Awalnya, Sulung memilih Futsal dan Robotic, tapi saat itu saya memberikan alternatif lain agar memilih Futsal dan Taekwondo saja. Mengapa tidak robotic? Karena Sulung memiliki energi yang besar. Tenaganya seolah tak pernah habis, pulang sekolah TK, bukannya istirahat tapi langsung main sepeda di depan rumah. Alhamdulillah, lingkungan rumah kami merupakan komplek kecil dengan hanya sekitar 25 rumah, sehingga jalanan di dalam komplek masih relatif aman, dipakai untuk main sepeda. Setelah bersepeda dan teman-teman sekomplek yang bersekolah di  SD pulang, biasanya lanjut bermain bola. Jadi itulah alasan kami, memilihkan ekskul yang menitik-beratkan pada olah tubuh.

Olahraga beladiri bagi anak juga sangat bagus, karena bermanfaat bagi kesehatan, dan menjadikan motoriknya lebih kuat. Hampir semua beladiri memiliki gerakan; memukul, menendang, melompat, memutar dan menjaga keseimbangan. Dan pada saat pemanasan, biasanya ada gerakan untuk melemaskan dan menguatkan otot-otot tubuh, misalnya dengan berlari, push up, sit up dan gerakan lainnya. Tentu saja gerakan tersebut sangat baik, untuk melatih motorik anak menjadi lebih kuat, dan cekatan. Dengan demikian, anak memiliki tubuh yang sehat dan kebugarannya juga meningkat. Anak pun tidak mudah sakit, karena daya tahan tubuh meningkat.

Baca juga : Manfaat Bercerita Bagi Anak Balita

Selain bermanfaat bagi kesehatan tubuh, berlatih beladiri juga sangat baik untuk perkembangan karakter anak, seperti :
  1. Menumbuhkan keberanian. Berlatih beladiri tentu bukan hanya sekedar melatih jurus-jurus atau gerakan-gerakan memukul, menendang, menghindar atau bertahan, tetapi juga melatih mentalnya. Misalnya saat ujian kenaikan tingkat salah satu perguruan pencak silat di daerahku dulu, para peserta ujian bersama-sama naik truk ke lokasi ujian di dekat pantai. Dua kilometer sebelum sampai ke lokasi, para peserta disuruh berlari sampai ke lokasi ujian. Sampai di lokasi, peserta ujiansemua diuji gerakan jurusnya, bahkan untuk tingkat yang lumayan tinggi, mereka dilatih untuk bertarung. Terkadang mereka harus melawan temannya yang berbadan lebih tinggi dan besar. Dari pertarungan ini, mereka belajar untuk berani menghadapi lawannya, berani mengambil keputusan kapan menghindar, kapan mesti menyerang. Mereka harus cepat berani mengambil inisiatif sebelum lawan mengalahkannya.
  2. Menumbuhkan kepercayaan diri. Seiring dengan latihan yang kontinyu, tentu kemampuan beladiri anak akan meningkat,sehingga kepercayaan dirinya otomatis ikut meningkat. Apalagi jika sudah terbiasa dengan lawan tanding yang berbadan lebih besar. Meski begitu, orangtua juga tetap harus ikut mengawasi, agar anak tetap rendah hati, bukan malah sombong dan semena-mena terhadap temannya yang lain, karena memiliki keahlian beladiri. 
  3. Menumbuhkan sportifitas. Semua cabang olahraga pasti mengajarkan nilai-nilai sportifitas. Ini sangat bagus untuk perkembangan anak, karena di dalam sportifitas terkandung makna jujur untuk mengakui kehebatan lawan. Adil dan tidak curang dalam berkompetisi, serta punya etika baik dalam merayakan kemenangan maupun menerima kekalahan.
  4. Menumbuhkan ketenangan. Berlatih beladiri akan mengajarkan anak untuk selalu fokus dengan diri dan lingkungannya. Mereka terlatih dengan semua gerakan beladiri yang harus dilakukan secara sempurna, karena kalau tidak, bisa jadi gerakan tersebut akan menimbulkan cedera. Dan gerakan bisa sempurna, jika terus berlatih, fokus dan tenang menghadapi semua kondisi. Ketenangan ini muncul seiring dengan kemampuan anak mengenal dirinya sendiri, baik kelebihan maupun kekurangannya.
  5. Menumbuhkan kedisiplinan. Berlatih beladiri secara otomatis akan mengajarkan kedisplinan pada anak. Mereka harus tepat waktu mengikuti jadwal latihan dan sungguh-sungguh menjalaninya, karena kedisiplinan merupakan salah satu kunci sukses dalam menguasai ilmu beladiri.
  6. Menumbuhkan kemampuan kerjasama. Saat berlatih beladiri, para pelatih biasanya menginstruksikan untuk melakukan gerakan-gerakan secara bersama-sama. Jika ada yang belum hafal atau gerakannya tidak sama, maka bukan hanya dirinya yang akan kena sanksi, tetapi kadang semuanya. Sehingga mereka terlatih untuk bekerjasama agar dapat mengikuti instruksi pelatih. Mereka juga diajarkan untuk menyiapkan tempat latihan dan menjaga kebersihan serta ketertiban tempat latihan secara bersama-sama. Apalagi jika ada perlombaan beladiri untuk kategori beregu (grup), kekompakan dan kerjasama mereka akan semakin teruji.
  7. Menumbuhkan kemampuan bersosialisasi. Saat mengikuti latihan beladiri, anak akan bertemu dan berinteraksi dengan teman sebaya, teman yang lebih muda atau lebih dewasa dan pelatih. Interaksi semacam itu tentu sangat bagus untuk mengasah kemampuan bersosialisasinya, sehingga diharapkan anak akan mudah bergaul dengan semua kalangan.
Baca juga : Membiasakan Anak Hidup Sederhana

Nah jika anak sudah siap untuk berlatih beladiri, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
  1. Saat berangkat berlatih, pastikan kondisi kesehatan anak dalam keadaan fit. Jika kurang fit, lebih baik minta ijin kepada pelatih untuk sementara tidak mengikuti latihan. Ini penting agar anak tidak mengalami cedera saat latihan.
  2. Jika anak mau, biasakan membawa bekal makanan ringan dan minuman. Saat latihan pasti kondisi tubuh anak akan banyak mengeluarkan cairan keringat, maka terpenting sih, bekal air putih, untuk mencegah dehidrasi. Bekal makanan ringan juga perlu agar anak tidak jajan sembarangan.
  3. Selalu ingatkan dengan bahasa yang lembut, agar tetap rendah hati meski memiliki kemampuan beladiri.
Demikian, sekedar sharing untuk para orangtua yang mau mengikutkan anaknya berlatih beladiri ataupun yang sudah berlatih. Semoga latihannya konsisten. Inshaa Alloh, dengan bimbingan pelatih dan orangtua, berlatih beladiri akan membuat tubuh anak lebih bugar dan perkembangan karakternya pun menjadi lebih baik. Aamiin

Perjalanan Mantan Tukang Becak yang Sukses Menjadi Jutawan

Perjalanan Mantan Tukang Becak yang Sukses Menjadi Jutawan. Dua puluh tahun yang lalu, mungkin tidak ada yang menyangka jika pak Katim bisa memperoleh kesuksesan seperti sekarang. Hal tersebut wajar, karena saat itu, pak Katim adalah seorang tukang becak yang mangkal di pertigaan dekat masjid besar. Setiap hari, pak Katim menjalani profesinya, mengantarkan para pelanggan ke tempat tujuannya. Waktu itu, becak masih bisa diandalkan untuk mengais rezeki, meski dengan hasil pas-pasan. Agar kebutuhan keluarga tercukupi, istri pak Katim ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan di rumah.

Namun sekarang, keluarga pak Katim sudah dikenal sebagai wiraswastawan yang sukses. Warung yang dikelolanya berkembang pesat, dengan omset harian mencapai jutaan rupiah. Pak Katim dan istrinya pun mempekerjakan 3 orang untuk membantunya melayani para pelanggan. Bagaimana kisah sukses perjalanan pak Katim? Simak kisahnya di bawah ini.

inspirasi sukses mantan tukang becak menjadi jutawan

Kehidupan keluarga pak Katim dan keluarga lainnya yang tergabung dalam satu RT, berubah ketika rumah sederhana yang mereka tinggali, tergusur oleh pemodal yang ingin membangun pusat perbelanjaan di wilayah mereka. Warga satu RT yang sudah seperti keluarga besar itu pun terpencar, namun sebagian masih tetap menjalin silaturahim dalam bentuk arisan bulanan, sampai sekarang.

Berbekal uang penjualan atau ganti rugi tanah dan bangunan miliknya, pak Katim membeli sebidang tanah dan membangun rumah yang sangat sederhana sebagai tempat tinggalnya. Lokasinya jauh di dalam gang, hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor, dengan kondisi jalan yang naik turun dan sempit.

Sisa uangnya dipakai sebagai uang muka pembelian angkot seken. Pak katim membelinya dengan pertimbangan:
  1. Uang muka masih terjangkau, dan tidak perlu ribet mengurus ijin trayek karena pembelian tersebut sudah termasuk ijin trayek yang dimiliki pemilik angkot yang lama.
  2. Angkot tersebut, selain digunakan sebagai angkutan umum, juga akan digunakan sebagai alat pendukung usaha barunya yang akan dirintis oleh sang istri yaitu buka warung yang menyediakan sayur mayur, lauk pauk dan kebutuhan dapur lainnya.
Pak Katim dan istri merintis usahanya, dengan menyewa tanah kosong di pinggir jalan. Hanya dengan atap seng seadanya, mereka memulai usaha warung ini. Setelah shubuh sampai tengah hari, tanah kosong ini dipakai untuk berjualan dan malam harinya dipakai untuk tempat parkir angkot. Mereka mulai menggerakkan usahanya mulai lewat tengah malam. Sekitar jam 2 pagi, pak Katim dan istri, dengan menggunakan angkot miliknya, sudah pergi ke pasar yang berjarak sekitar 3 km, untuk memilih sayur mayur, lauk pauk  dan berbagai kebutuhan dapur lainnya.

Selepas shubuh, istri pak Katim sudah siap melayani para pelanggan yang datang ke warungnya, sedangkan pak Katim mengoperasikan angkot. Di luar dugaan mereka, usaha warung berkembang sangat pesat. Kesuksesan usaha warung ini dimungkinkan karena:
  1. Belum ada warung yang berjualan sayuran di wilayah sekitar tempat tinggal mereka. Mungkin saat itu, belum terpikir oleh yang lainnya karena sudah ada pasar yang hanya berjarak 3 km. Faktanya sebagian warga lebih memilih berbelanja di warung dibandingkan ke pasar.
  2. Pak Katim dan istri sangat piawai memilih sayur mayur yang segar, daging, ikan dan lainnya, ditambah mereka rutin serta displin pergi ke pasar lewat tengah malam, pada saat pasar baru mulai beraktifitas dengan bongkar muat barang dari supplier. Ini salah satu rahasia mereka mendapatkan barang dagangan dengan kualitas nomor satu.
  3. Barang dagangan mereka dikenal dengan kualitas baik dan harga yang cukup murah, sehingga konsumennya puas dan menjadi pelanggan tetap. Harga bisa cukup murah karena mereka bisa menekan ongkos angkut barang dagangan dari pasar ke warungnya dengan  angkot yang mereka miliki. Ini salah satu rencana yang brilian saat memutuskan membeli angkot, karena menopang kelancaran usaha warung yang dirintisnya.
  4. Hubungan dengan para pelanggan terjalin dengan baik. Sampai sekarang, di wilayah tempat tinggal pak Katim, masih banyak warga yang meskipun menggelar hajatan di gedung, namun untuk konsumsinya tidak ditangani oleh pihak catering tapi masih ditangani oleh pihak keluarga sendiri. Mungkin karena sifat kekeluargaan yang masih kental. Pihak keluarga dibantu saudara dan tetangga biasanya masak sendiri, dan pak Katim lah yang menyuplai semua kebutuhan untuk konsumsinya. Pembayarannya setelah hajatan selesai. Hubungan yang saling menguntungkan kan? Karena pihak yang punya hajatan, bisa mempending anggaran untuk kebutuhan konsumsi, dan pak Katim pun memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. 
  5. Mereka memiliki sifat yang ramah, mudah bergaul, rendah hati dan tidak suka menonjolkan kesuksesan. Mereka tetap menjadi pribadi yang sederhana dan tetap menjalin silaturahim. Bahkan dengan kesibukannya, mereka tetap mengikuti arisan bulanan dengan mantan warga RT yang dulu terkena gusuran.
Baca juga : Sadawira Si Anak Durhaka

Sekitar 5 tahun yang lalu, pak Katim sudah membeli tanah dengan luas sekitar 250 meter persegi di pinggir jalan dan di atasnya sudah dibangun rumah berlantai 2, serta mobil MPV terbaru. Rumah lamanya ditempati oleh anak pertamanya. Ketika pak Katim ditanya oleh salah seorang anggota arisan, berapa harga tanahnya, beliau hanya menjawab, “180 jutaan”. Padahal saya yakin, harganya jauh di atas itu, karena kavling kosong di sebelahku saja laku segitu dengan luas hanya 90 meter persegi. Seandainya dikalkulasi dengan harga pasar, nilai aset pak Katim di atas 2 milyar. Namun karena pribadinya yang low profile, beliau tidak mau menyombongkan diri.

Dari perjalanan sukses pak Katim sebagai mantan tukang becak, ada beberapa hal yang beliau lakukan dalam meraih sukses, diantaranya:
  1. Mampu mengubah kebiasaan. Siapapun pasti pernah merasa tidak nyaman jika melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan, termasuk harus beradaptasi dengan suasana dan lingkungan yang baru. Pak Katim bisa menjadi contoh sukses, bagaimana dirinya beserta istri mengubah kebiasannya, bangun tengah malam kemudian pergi ke pasar dan beradapatasi dengan lingkungan pasar serta kehidupanan jalanan. Susah loh, saya sendiri ingat, hanya sekedar ingin bisa menyetir mobil pun butuh keberanian dan tekad yang kuat.
  2. Berani mengambil resiko. Sebagian besar orang mungkin akan merasa cukup jika sudah bisa mencukupi kebutuhan makan, namun pak Katim belum cukup. Beliau memuta otak untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Tentu dengan resiko kegagalan. Dan tidak semua orang siap dengan resiko kegagalan. Hanya orang-orang bermental baja yang sanggup mengambil resiko.
  3. Berani memulai usaha. Keberanian seperti pak Katim tidak dimiliki oleh semua orang. Banyak orang yang ingin sukses berbisnis, tapi hanya sedikit yang memulai usahanya. Kendalanya bisa dari dalam diri sendiri, bisa juga dari luar dirinya seperti keluarga atau lingkungannya. Keluarga tidak mendukung untuk memulai usaha, karena hasilnya yang belum pasti. Ini disebabkan karena pola pikir yang sempit dan anti perubahan, takut untuk keluar dari zona nyaman. Persis seperti tingkah para kepiting. Para kepiting yang di taruh dalam sebuah baskom, kemudian ada satu dua kepiting yang berusaha keluar dari dalam baskom tersebut. Ternyata kepiting tersebut mengalami kesulitan, bukan karena ketidakmampuannya, tapi karena kepiting yang lain menariknya kembali ke bawah, sehingga sang kepiting terjatuh kembali. Begitu seterusnya, dan anehnya jika ada satu kepiting yang berhasil, maka yang lainnya akan beramai-ramai mengikutinya. Dari kepiting ini, kita bisa belajar bahwa dibutuhkan keinginan yang kuat dan kerja keras agar dapat keluar dari lingkungan yang kurang mendukung kita.
  4. Fokus pada usahanya. Sebuah perjalanan panjang menuju kesuksesan, pasti ada saja kendala dan godaannya. Maka yang diperlukan hanyalah fokus pada tujuan. Dan pak Katim mampu tetap fokus pada usahanya, meski kesuksesan telah berhasil diraihnya. Beliau mampu mengatasi kendala yang ada dan mampu mengendalikan berbagai godaan yang mungkin saja datang mendera.
  5. Tetap menjalin silaturahim. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, disebutkan bahwa Rasullullah bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” Silaturahim bagi para pebisnis atau wiraswastawan, mutlak diperlukan, sebab dengan silaturahim lah, jaringan bisnisnya akan semakin kuat dan dikenal oleh orang lain.
Begitulah kisah pak Katim, seorang mantan tukang becak yang sukses menjadi jutawan. Semoga terinspirasi ketika membaca kisahnya. Aamiin