Tips Mudik Agar Anak Nyaman di Mobil

ANAK3.COM - Tips Mudik Agar Anak Nyaman di Mobil. Tak terasa sebentar lagi, kita akan merayakan Idul Fitri 1439 H. Salah satu kebiasaan yang mengiringi perayaan tersebut dan sudah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia adalah budaya mudik. Kami pun termasuk yang selalu mudik setiap libur hari raya Idul Fitri. Tak hanya kaum muslim, saudara kita dari kalangan non muslim pun ikut mudik. Salah satu alasannya, karena saat Idul Fitri ada cuti bersama.

Meski butuh perjuangan, kami selalu menyempatkan untuk bisa mudik, karena kami ingin sedikit membahagiakan orangtua. Iya, rasa capai karena macet, biaya yang cukup lumayan untuk ongkos mudik, tak ada artinya dibanding melihat senyuman orangtua dan mendengar doa secara langsung dari orangtua untuk keberkahan hidup kita di tanah rantau.

tips mudik agar anak nyaman di mobil


Sejak kami dikaruniai anak sepuluh tahun yang lalu, kami selalu mengajaknya untuk mudik, mengunjungi kakek neneknya di daerah Kebumen. Awalnya tidak mudah membawa anak dalam perjalanan jauh dengan menggunakan mobil, karena kondisi yang macet dan juga rasa bosan. Namun, setelah satu dua kali diajak mudik, dan beberapa tips yang kami lakukan, anak pun merasa cukup nyaman dan tidak rewel melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan mobil.

Beberapa tips mudik dengan menggunakan mobil, agar anak merasa nyaman, diantaranya :
  1. Memastikan kondisi mobil dalam keadaan prima. Sebelum mudik, ada baiknya mobil dibawa ke bengkel dulu untuk memastikan kondisinya. Kalau pun belum masuk masa untuk service, tetap cek kondisi ban, oli, lampu-lampu pastikan tidak ada yang putus dan AC tetap berfungsi dengan normal.
  2. Pastikan keamanan anak-anak. Jika membawa anak balita, lebih baik memakai baby car seat. Tak perlu membelinya, kita bisa sewa kok, ada yang mingguan atau bulanan. Selain untuk keamanan, baby car seat juga membantu anak balita duduk lebih nyaman, karena bentuknya yang mengikuti tubuh mungil balita sehingga tubuhnya tidak banyak menerima guncangan selama perjalanan. Untuk anak yang lebih dewasa tetap memakai child seat agar bisa duduk dengan aman dan nyaman. 
  3. Bawa mainan atau benda kesayangan anak. Biasanya anak memiliki mainan atau benda yang menjadi favoritnya. Nah benda itu sebaiknya dibawa agar anak merasa senang. Seperti anak kami yang ketiga, dia sangat suka dengan boneka bebek berwarna kuning. Tidur pun mesti ada boneka bebek disampingnya. Jadi boneka inilah yang kami bawa jika melakukan perjalanan jauh. Kalau untuk anak yang lebih besar, bisa membawa komik atau gadget. Tapi sebaiknya dibatasi penggunaannya. Kalau anak-anak kami memakai gadget saat macet. Mereka memainkan games yang disukainya untuk melepas kebosanan.
  4. Bawa beberapa film atau music yang disukai anak. Film ini bisa diputar di headunit mobil atau di gadget. Kami menyimpannya dalam flashdisk. Lumayan tidak memenuhi penyimpanan internal gadget. Cukup bawa OTG, maka flashdisk bisa dibuka di gadget.
  5. Siapkan bekal untuk anak, seperti botol dot, susu bubuk, termos kecil berisi air panas, air mineral dan cemilan yang disukai anak. Perbekalan ini mutlak dipersiapkan, karena kadang kondisi jalanan tidak bisa diprediksi. Bisa macet berjam-jam. Kami punya pengalaman yang cukup melelahkan, Bandung-Kebumen ditempuh dalam waktu 25 jam. Alhamdulillah, dengan perbekalan yang cukup di mobil, anak-anak tetap santai karena mereka tetap bisa makan.
  6. Sebisa mungkin, jangan terlalu banyak membawa barang-barang. Bawa baju ganti secukupnya saja, dan barang –barang yang diperlukan selama perjalanan. Sisanya nanti beli pas sampai di tempat tujuan. Misalnya pampers, susu. Dan barang-barang tersebut, usahakan masuk semua ke bagasi mobil. Sisakan satu tas saja, yang berisi baju ganti jiak diperlukan selama perjalanan. Pengaturan barang bawaan ini sangat berpengaruh terhadap kenyamanan.
  7. Bawa beberapa kantong plastik. Mungkin hal ini terlihat sepele, namun sangat bermanfaat. Kantong plastik ini dapat digunakan untuk jaga-jaga seandainya anak mabuk darat dan muntah, atau bisa digunakan untuk menyimpan sampah dan baru membuangnya saat beristirahat di rest area.
  8. Pilih rest area yang nyaman untuk anak. Biasanya kami memilih beristirahat di rest area yang menyediakan tempat parkir yang luas dan banyak kios penyedia makanan. Sekarang banyak masjid besar di sepanjang jalur selatan, yang memiliki fasilitas seperti itu.
Baca juga : Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua

Demikian tips mudik yang dapat saya sharing, tentu yang terpenting adalah jaga keselamatan. Tidak usah buru-buru. Kalau pun macet ya dibawa selow aja, karena yang lain pun mengalami hal yang sama dengan kita. Tetap budayakan untuk saling menghargai dan menghormati sesama pemudik agar perjalanan aman dan nyaman. Selamat mudik buat teman-teman dan selamat menjemput kebahagiaan bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman.

Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua

ANAK3.COM - Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua. Memiliki anak dengan bakat istimewa merupakan anugerah paling indah bagi orangtua. Namun terkadang, tidak demikian bagi anak. Bakat istimewanya membuat kehidupannya justru tertekan, karena ambisi orangtuanya. Setidaknya ini salah satu pesan yang saya pahami dari film gifted (2017). Film ini dirilis tanggal 7 April 2017. Meski sudah lama, menurutku film ini tetap inspiratif dan berkarakter. Sayang kalau dilewatkan.

Kisah ini bermula di sebuah kota kecil, di teluk pantai Florida. Mary, gadis kecil berusia 7 tahun yang tinggal bersama pamannya yang bernama Frank, menunjukkan bakat yang luar biasa dalam bidang Matematika di hari pertama ia sekolah. Mary pun mendapatkan tawaran beasiswa ke sekolah khusus untuk anak-anak berbakat. Ternyata bakat Mary berasal dari ibunya, seorang matematikawan hebat yang berhasil dalam pemecahan masalah Navier-Stokes, sampai akhirnya memilih bunuh diri saat Mary baru berusia 6 bulan dan menyerahkan hak asuh Mary pada kakaknya, Frank.

film gifted (2017)

Frank meyakini bahwa adiknya, ibu Mary, menginginkan anaknya agar menjalani kehidupan normal, menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya. Alasan inilah yang dipakai Frank untuk menolak tawaran beasiswa bagi Mary. Sampai suatu hari, Evelyn, nenek dari Mary dan ibu dari Frank datang berkunjung dan meminta hak asuh Mary. Frank menolak, tapi Evelyn tetap memaksa untuk mengambil hak asuh Mary, apalagi setelah mengetahui bakat Mary seperti ibunya. Evelyn percaya bahwa Mary adalah satu dari satu miliar keajaiban matematika yang harus diajar secara khusus, sebagai persiapan untuk mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan matematika.

Perebutan hak asuh Mary pun berlanjut sampai ke ranah pengadilan. Di pengadilan, terungkap sisi kelam kehidupan ibunya Mary, yang tertekan karena pola asuh dari neneknya, Evelyn. Ibu Mary kehilangan masa kecil dan remajanya, karena terpaksa mengikuti ambisi Evelyn untuk menjadikan ibu Mary menjadi salah satu matematikawan terkemuka dengan memecahkan salah satu persamaan matematika Navier-Stokes . Ibu Mary tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama teman-temannya, sehingga pernah kabur dari rumah bersama seorang teman lelaki yang disukainya, untuk sekedar bermain ski. Tekanan psikologis inilah yang mengakibatkan ibunya Mary memilih untuk bunuh diri.

Sebelum bunuh diri, Ibunya Mary berhasil memecahkan masalah Navier-Stokes, namun penemuannya disimpan dan hanya Frank yang mengetahuinya. Sampai akhirnya, Frank memberitahukan kepada ibunya, Evelyn, bahwa adiknya sudah berhasil memecahkan masalah tersebut, tapi ia ingin agar penemuannya disimpan dan baru diumumkan setelah kematian Ibunya. Tentu saja Evelyn shock mendengarnya, ia seolah tak percaya jika putrinya begitu membencinya.

Baca juga : Kisah Pencarian Jati Diri Anak

Endingnya, film ini mengakomodir perspektif bahwa anak jenius harus diajar secara khusus, sekaligus bahwa anak jenius pun perlu menikmati masa kecilnya seperti anak-anak normal lainnya. Di akhir film, ada scene Mary mengikuti kuliah bersama mahasiswa dewasa di sebuah Universitas, dan setelahnya Mary pergi ke sekolah biasa dan bermain bersama teman-temannya.

***

Saya baru mengerti bahwa faktor genetik seorang ibu sangat berpengaruh dalam mewariskan kecerdasan pada anak.  Menurut Dr. Ben Hamel, ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, pengaruh tersebut sangat besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibunya. Jadi terbukti shahih ya, bahwa kecerdasan diwariskan, namun begitu pengaruh lingkungan dan pola asuh juga ikut berperan dalam membentuk kecerdasan anak hingga dewasanya. Info penting nih, buat para lelaki yang masih jombo, carilah wanita yang cerdas karena ibu yang cerdas, berpotensi besar melahirkan anak-anak yang cerdas pula...hihi

Bagiku, film ini sangat menarik karena memberikan perspektif bahwa orangtua harus menyayangi anaknya secara benar. Jangan sampai ambisi orangtua menghancurkan kebahagiaan anak. Mungkin ini bisa terjadi di sekeliling kita. Orangtua sangat berambisi agar anaknya sukses dan berprestasi secara akademik. Beragam cara ditempuh, dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai les. Jika anaknya berprestasi, tentu orangtuanya ikut mendapat sanjungan sebagai orangtua yang hebat, orangtua yang berhasil mendidik anaknya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang membersamai anak-anak agar tumbuh kembang dengan baik. Aamiin

Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

ANAK3.COM - Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Usia Dini. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Founding Fathers NKRI sudah sangat paham bahwa kemajuan sebuah negeri terletak pada pendidikannya. Kita lihat, semua negara maju sangat memperhatikan pendidikan karakter bagi warganya sejak usia dini. Mengapa ini penting? Karena pendidikan karakter pada usia dini sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya di masa depan.
pentingnya pendidikan karakter anak usia dini

Menurut pakar pendidikan anak usia dini, usia 0-6 tahun merupakan periode emas, dimana kemampuan otak anak berkembang sangat pesat, mencapai 80%. Pada masa ini, karakter anak mulai terbentuk, dengan menyerap berbagai informasi yang terpapar melalui orang terdekat, keluarga, lingkungan ataupun media. Dapat dikatakan, masa ini adalah masa kritis bagi penanaman karakter seorang anak. Kegagalan dalam mendidik karakter anak di usia dini, akan berdampak buruk pada masa dewasanya.

Maka sudah sepatutnya jika pendidikan karakter harus di mulai dari lingkungan keluarga, sebagai lingkungan yang paling awal memberikan sentuhan bagi tumbuh kembang anak. Peran aktif orangtua diyakini sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Karakter yang baik inilah yang akan melahirkan akhlak mulia, sesuai dengan risalah yang dibawa oleh Rasullullah Muhammad SAW untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Baca juga : 7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

Orangtua mesti memahami bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak. Fungsi keluarga sebagai tempat untuk mendidik, mengasuh dan mengembangkan kemampuan anak secara optimal mempunyai peran yang sangat vital bagi kesuksesan pendidikan karakter di lingkungan selanjutnya. Bisa dikatakan, karakter suatu bangsa tergantung dengan pendidikan karakter anak di keluarga.

Kesuksesan keluarga dalam membangun karakter anak sangat dipengaruhi oleh jenis pola asuh yang diterapkan orangtuanya. Berikut ini beberapa sikap atau perilaku yang harus ditanamkan dan dikembangkan dalam rangka pembentukan karakter anak usia dini di lingkungan keluarga:
  1. Religus, adalah sikap dan perilaku taat dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Ini adalah pondasi utama dalam pembentukan karakter anak usia dini agar ia menjadi makhluk yang taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhannya, toleran dan saling menghargai dengan pemeluk agama lain. Orangtua dapat menanamkan perilaku ini dengan mulai dari hal-hal kecil, misalnya membiasakan anak untuk berdoa setiap memulai aktifitas.
  2. Jujur, adalah suatu perilaku yang menunjukkan kesesuaian antara kata dan perbuatan, sehingga termasuk dalam golongan orang yang dapat dipercaya. Contoh paling konkret adalah diri Rasullullah Muhammad SAW, beliau sudah mendapat gelar Al-Amin dari penduduk Mekkah, yang artinya seorang laki-laki yang dapat dipercaya, amanah dan jujur. Gelar ini beliau terima, jauh sebelum diangkat sebagai Rasul.
  3. Disiplin, yaitu perilaku untuk tertib dan patuh terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku. Perilaku ini bisa dikembangkan di lingkungan keluarga, misalnya dengan cara membiasakan anak usia dini agar mengembalikan dan menyimpan barang-barang mainannya pada tempatnya semula. 
  4. Kerja Keras, yaitu suatu perilaku yang menunjukkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Orangtua hendaknya bisa memotivasi anak untuk selalu bersungguh-sungguh menyelesaikan tugasnya, tidak mudah menyerah jika ada hambatan ataupun kendala. Perilaku ini sangat menentukan kesuksesan anak dalam menghadapi tantangan di masa depan. Perilaku ini dapat dikembangkan dengan membiasakan anak usia dini untuk melakukan sendiri apa yang sudah bisa dilakukannya, tanpa perlu dibantu lagi.
  5. Mandiri, yaitu suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung kepada orang lain. Orangtua dapat mengembangkan perilaku anak ini dengan cara memberikan tugas-tugas yang sekiranya sudah mampu dilaksanakan oleh anak. Misalnya anak SD kelas 1, mestinya sudah mandiri dalam hal berpakaian, menyiapkan buku-buku dan peralatan sekolahnya sendiri.
  6. Rasa Ingin Tahu, yaitu sikap dan tindakan untuk mengetahui lebih mendalam dari sesuatu yang dipelajarinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan cara yang sederhana, misalnya saat anak sedang menggambar dengan cat air, maka bisa ditunjukkan terbentuknya warna baru dengan mencampurkan 2 jenis warna primer, warna biru dan merah akan menghasilkan warna ungu. Warna merah dan kuning akan menghasilkan warna orange. Warna kuning dan biru akan menghasilkan warna hijau. Eksprerimen kecil seperti ini tentu akan menumbuhkan rasa ingin tahu bagi anak usia dini.
  7. Bersahabat dan Komunikatif, yaitu suatu sikap atau perilaku yang menunjukkan rasa senang untuk bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak untuk sering bertemu dengan orang lain di luar lingkungan keluarga, misalnya dengan silaturahim kepada kerabat atau teman, atau mengikutkan anak-anak usia SD pada kegiatan di luar sekolah, contohnya kegiatan eskul, atau super camp pada saat libur sekolah.
  8. Gemar Membaca, yaitu kebiasaan untuk membaca buku-buku yang memiliki nilai kebaikan bagi dirinya. Orangtua dapat mengembangkannya dengan mengajak anak-anak secara berkala untuk berbelanja buku di toko buku, dan membiasakan untuk tamat menyelesaikan satu buku misalnya sebulan sekali, di luar buku-buku sekolah. Setelah selesai membaca buku, mintalah ke anak untuk menceritakan kembali isi buku yang telah dibacanya. Dengan demikian orangtua bisa mengetahui seberapa jauh pemahaman anak terhadap buku yang dibacanya dan nilai-nilai apa yang bisa diambil sebagai pelajaran. Jika anak usia dini belum bisa membaca sendiri, maka orangtua lah yang bertugas untuk membacakan buku-buku agar mereka terbiasa dengan budaya membaca.
Baca juga : Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

Ke delapan sikap atau perilaku di atas dapat ditanamkam kepada anak secara perlahan namun konsisten, agar karakter anak dapat terbentuk sejak usia dini. Dan masih banyak lagi sikap dan perilaku yang baik, yang dapat ditanamkan kepada anak. Inshaa Alloh, jika ini berhasil diterapkan di lingkungan keluarga, maka anak akan lebih mudah menerima pendidikan pada jenjang lingkungan berikutnya.

Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak

ANAK3.COM - Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan Bersama Anak. Tak terasa, kurang dari sebulan lagi, Ramadhan akan kembali menyapa kita. Bulan yang penuh dengan keistimewaan, sehingga di bulan inilah Rasullullah bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan amalan lainnya tidak seperti di bulan yang lain, dan bersungguh-sungguh pula pada hari-hari sepuluh akhir Ramadhan tidak seperti hari lainnya. (HR. Muslim)

Orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa dari mulai terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari, dan disunnahkan untuk memperbanyak amalan lainnya, seperti shalat, tadarus Al Qur’an dan bersedekah. Tak salah kiranya, kalau Ramadhan dikatakan sebagai bulan pendidikan untuk jasmani dan ruhani. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi kita dan keluarga untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh secara kualitas dan kuantitas.

persiapan menyambut ramadhan bersama anak

Maka sudah sepatutnya jika kita bersungguh-sungguh melibatkan anak dalam melakukan persiapan menyambut bulan Ramadhan, agar mereka bisa mempersiapkan secara fisik dan mental dengan rasa optimis dan riang gembira, sehingga dapat memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Berikut beberapa persiapan yang dapat kita lakukan bersama anak:

1. Mengajak anak untuk beberes rumah. Persiapan ini diperlukan untuk menciptakan suasana rumah yang lebih fresh dan bersih, sehingga diharapkan dapat meningkatkan semangat anak dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Persiapan ini juga dapat digunakan untuk merapikan buku-buku anak dan peralatan gambar, agar nantinya lebih mudah jika mau dimanfaatkan untuk mengisi waktu selama menjalani ibadah puasa.

Baca juga : Hikmah Sulit Mendapatkan Pekerjaan

2. Menceritakan keutamaan-keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, agar anak-anak semakin termotivasi menjalani ibadah. Mereka juga perlu diajarkan makna berpuasa, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan hawa nafsu yang kurang baik, seperti marah, menggunjing orang lain (ghibah) dan lainnya.

3. Menyusun agenda kegiatan di rumah selama bulan Ramadhan. Agenda dapat disusun secara harian dan juga mingguan. Penyusunan agenda ini hendaknya benar-benar melibatkan anak, dan disesuaikan dengan usia mereka, agar mereka memiliki komitmen untuk melaksanakannya. Contoh agenda harian, misalnya:
  • Bangun jam 03.00 WIB, lalu membantu menyiapkan makan dan minum untuk sahur. Anak SD yang sudah berusia 10 tahun, sepertinya sudah bisa diberikan tugas, misalnya membuatkan teh manis hangat untuk semua anggota keluarga.
  • Selesai bersantap sahur, kemudian persiapan untuk shalat Shubuh berjamaah. Untuk anak laki-laki, biasakan untuk ikut ayahnya, shalat berjamaah di Mesjid.
  • Selesai shalat Shubuh, hendaknya dilanjutkan dengan tadarus Al Qur’an. Selama bulan Ramadhan, biasanya kami merubah jadwal tadarus anak-anak, dari biasanya sehabis shalat Maghrib menjadi sehabis shalat Shubuh. Ini kami lakukan, karena setelah Maghrib, waktunya kami gunakan untuk istirahat sebentar, sebelum menjalani shalat Isya dan shalat Tarawih. 
  • Sepulang sekolah, usahakan agar anak istirahat dan tidur siang. Menjelang berbuka puasa, libatkan anak untuk ikut mempersiapkan makanan dan minuman. Untuk berbuka puasa, jika ada cukup dengan beberapa butir kurma dan teh manis hangat. Kurma sangat baik sebagai makanan pembuka, karena menurut penelitian, kandungan glukosanya langsung bisa diserap oleh tubuh, sehingga tubuh langsung mendapatkan asupan energi. Minuman hangat juga bagus untuk saluran pencernaan. Melibatkan anak dalam persiapan menjelang berbuka puasa, sangat baik untuk mengajarkan anak-anak nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga, agar saling membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.  
  • Setelah berbuka puasa secukupnya, ajak anak-anak untuk segera melaksanakan shalat Maghrib, agar tidak tertinggal waktu shalatnya. Selesai shalat Maghrib, baru menyantap nasi dan lauk pauk secukupnya, tidak sampai kekenyangan agar makanan dapat dicerna dengan baik.
  • Kemudian persiapan menunaikan shalat Isya dan shalat Taraweh. Setelah itu dilanjutkan dengan murojaah juz ke 30 atau menambah hafalan baru, meski hanya 2-3 ayat.
  • Anak-anak juga sebaiknya dibiasakan agar tidur malam dengan teratur dan tidak terlalu banyak menonton TV. 

Baca juga : Memaknai Rezeki dan Cara Menggapainya

4. Jika anak-anak libur sekolah, maka siang harinya, bisa disusun kegiatan dengan agenda berikut:
  • Mengikutkan anak pada kegiatan pesantren Ramadhan. Kegiatan seperti ini biasanya marak di kota-kota besar. Hampir semua masjid besar mengadakan kegiatan pesantren untuk anak-anak. Biasanya sekitar satu minggu. Anak sulung saya, sejak kelas 1 SD, sudah saya ikutkan kegiatan seperti ini, dan dia enjoy, karena kegiatannya memang tidak monoton. Beberapa kegiatan pesantren Ramadhan untuk anak SD, biasanya diisi dengan tadarus, bercerita, mewarnai, fun games dan menonton film. Kegiatan inilah yang membuat anak-anak antusias mengikutinya. Selain itu, mereka juga mendapatkan teman-teman baru.
  •  Jika memiliki uang lebih, tak ada salahnya mengajak anak-anak ke toko buku untuk membeli buku kesukaannya. Orangtua juga perlu menceritakan kisah-kisah Nabi dan sahabat dalam berdakwah, agar timbul keinginan mereka, untuk dapat mencontoh akhlak Nabi dan sahabat dalam berdakwah.
  • Sesekali ajaklah anak untuk ngabuburit, tentunya ngabuburit yang berfaedah. Kalau di Pusdai Bandung, setiap sore selama Ramadhan pasti ramai, karena banyaknya penjual makanan. Selain itu juga banyak yang menyewakan mainan anak-anak, seperti mobil-mobilan listrik, skuter atau naik kuda keliling taman. Saya terkadang mengajak anak-anak main ke situ agar mereka bergembira menjalani puasa.
5. Orangtua hendaknya memperhatikan kondisi kesehatan anak dengan seksama, dengan cara memberikan makanan yang sehat dan bergizi, kalau perlu ditambahkan dengan rutin minum madu atau vitamin lainnya.

Demikian beberapa persiapan menyambut bulan Ramadhan bersama anak, yang dapat dilakukan. Tentu saja persiapan-persiapan tersebut dapat dilakukan jika kita sebagai  orangtua mampu melakukan pendekatan kepada anak secara tepat. Semoga kita semua dan keluarga diberikan kesehatan, sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, bagi yang menjalankannya.