Kenali Modus Penipuan Investasi dengan Skema Ponzi

Siapa  Penggagas Investasi Skema Ponzi?

Investasi skema Ponzi pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Italia bernama Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi (1882 –1949). Meski ia terlahir dari keluarga bangsawan, namun keluarganya sudah tidak memiliki kekayaan sehingga Ponzi dikirim ke Amerika untuk berbisnis. Di sana ia dikenal dengan nama Charles Ponzi. Pada tahun 1920, ia menggagas sebuah ide bisnis, untuk mengumpulkan modal dari masyarakat, dengan janji pengembalian modal beserta bunga sebesar 50% dalam 50 hari dan 100% dalam 100 hari. Janji yang sungguh menggiurkan bagi masyarakat, sehingga Ponzi tidak kesulitan mengumpulkan dana. Masyarakat berbondong-bondong menginvestasikan uangnya. Konon sampai terkumpul dana sebesar USD 10 Juta. Angka yang fantastis di tahun 1920.

Ponzi membayar pinjaman modal dengan pinjaman berikutnya. Gali lubang tutup lubang. Ia menggunakan kepiawaiannya untuk meyakinkan masyarakat yang memberikan pinjaman sebagai investor. Ponzi melunasi pinjaman investor A dengan pinjaman investor B. Ia mengulur waktu dengan harapan bisa mengembangkan uangnya. Demikian skema Ponzi berlangsung selama setahun sampai akhirnya runtuh.
Kenali Modus Penipuan Investasi dengan Skema Ponzi
Skema Ponzi Zaman Sekarang

Dikutip dari detikNews, Tahun 2008, Bernie Madoff membangun skema Ponzi dan berhasil meraup uang sebesar USD 65 Miliar.  Siapa Madoff? Ia bukan orang sembarangan, pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi National Associations of Securitas Dealers.  Korbannya pun orang terpandang; Steven Spielberg, First Manhattan Company, Kevin Bacon, Elie Wiesel dan berbagai organisasi amal terkenal. Madoff tercatat sebagai orang yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah melalui skema Ponzi. Setelah ponzi-nya hancur, ia diadili dan mengakui 11 dakwaan atas dirinya. Madoff dihukum 150 tahun penjara oleh Pengadilan Federal Manhattan pada tanggal 30 Juni 2009.

Modus penipuan dengan skema Ponzi terus berkembang dan semakin marak sampai saat ini, baik secara tradisonal maupun dikemas secara modern. Korbannya pun dari semua kalangan : masyarakat awam, selebritis, politisi bahkan kalangan akademisi. Skema Ponzi ini akan langgeng selama masyarakat memiliki sifat serakah untuk mendapatkan kekayaan atau materi secara mudah dan cepat.

Modus penipuan ini muncul dalam berbagai rupa, dari yang sederhana sampai yang modern, antara lain :

1. Investasi bodong versi sederhana. 

Investasi ini dijalankan dengan mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan suatu jenis usaha yang sebetulnya tidak pernah ada. Pelaku berpura-pura membangun badan usaha atau koperasi dan memalsukan dokumen perizinannya sebagai kedok. Biasanya investasi bodong memiliki ciri yang serupa dalam menarik korbannya, diantaranya :

a. Pelaku memberikan tawaran investasi dengan imbal hasil (return) keuntungan yang tinggi dan dalam jumlah yang pasti. Besarannya bisa sampai 10 kali lipat dari return deposito.

b. Tenaga marketingnya sangat agresif atau ditawarkan dengan konsep MLM. Maka tak heran kalo korbannya banyak yang masih memiliki hubungan kekerabatan. 

c. Pelaku bertindak seolah-olah sebagai agen investasi yang telah memiliki izin dari salah satu lembaga yang berwenang seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti), dan Kementerian Perdagangan. 

d. Investasi bodong dengan skema Ponzi ini akan berjalan lancar selama 1-2 tahun pertama, dan mulai bermasalah di atas tahun ke 3.

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) pun mengingatkan masyarakat  jangan mudah tergiur oleh oknum penyedia jasa investasi ilegal, yang menjanjikan return yang sangat tinggi. Selain itu masyarakat juga harus mempertimbangkan secara cermat dalam memilih jenis investasi, jangan sampai produk investasi yang dipilih tidak memiliki izin. Oknum penyedia jasa investasi ilegal ini banyak menyasar kalangan menengah karena pemahaman mengenai kinerja investasi yang kurang.

2. Investasi bodong versi modern.

Modus penipuan berkedok investasi pun sudah merambah melalui teknologi informasi seperti internet. Banyak penawaran “bisnis” yang sebetulnya tidak pernah ada. Para pelaku menawarkan “bisnis” dengan berbagai cara, seperti; tampilan website yang memikat dan terlihat professional, presentasi digelar di hotel mewah, bagi-bagi bonus hadiah kepada segelintir investor awal namun diekspos secara besar-besaran sehingga menarik calon korban lainnya. Tidak sedikit juga pelaku yang memanfatkan ketenaran selebritis dan orang terpandang, tujuannya agar “bisnis” yang ditawarkan cepat dikenal dan dipercaya oleh masyarakat. 

Di website mereka mengenalkan bisnis ini itu yang sedang dijalankan, tapi sejatinya hanya omong kosong. Marketing plan yang mereka tawarkan hanya mengilustrasikan bonus dari sistem rekrut-merekrut saja, bukan berjualan produk/jasa. Atau jika mereka menjual produk, produknya tak bermanfaat, terkadang disertai replika website untuk menjajakan “bisnis” penipuan serupa.

Ilustrasi Muslihat Busuk pelaku Skema Ponzi

Nah bagaimana cara mengenali muslihat busuk pelaku penipuan dengan skema Ponzi? Berikut ilustrasi muslihat yang mereka lakukan:

1. Pelaku menetapkan target dengan mengamati, menyelidiki dan mencari calon korban. Kalo modus sederhana, pelaku mencari calon korban dari orang yang dikenalnya. Bisa rekan kerja, teman semasa sekolah atau teman dari temannya.

2. Pelaku memainkan umpan dengan berbagai cara, misalnya menunjukkan dirinya memiliki barang mewah, kendaraan terbaru, rumah atau apalah yang penting mendapatkan kepercayaan korban. Padahal barang yang ia tunjukkan bukan miliknya, bisa jadi ia menyewanya hanya untuk menjerat korban. Zaman sekarang, tas aja bisa disewa loh.

3. Setelah korban tertarik, pelaku lalu menggiring korban dan mulai bercerita bagaimana ia bisa mendapatkan uang banyak dengan cepat dan mudah.

4. Pada awal investasi, pelaku akan membiarkan korban mendapatkan keuntungan seperti yang dijanjikan. Biasanya pada 1-2 tahun pertama. Setelah itu, pelaku akan meminta korban untuk berinvestasi lebih banyak, dengan iming-iming keuntungan yang lebih besar. Demikian seterusnya. Pelaku terus menguras uang korbannya.

5. Setelah uang korban habis, pelaku mulai menghindari korban. Dari yang tadinya sangat dekat, sekarang susah untuk ditemui. Ada aja alasannya. Jika korban protes, pelaku akan menenangkannya atau ada juga yang malah menakuti bahwa korban tak bisa melaporkan kepada pihak berwenang. Bahkan dalam kondisi ekstrem, pelaku akan menggunakan segala cara untuk mempengaruhi proses hukum, seandainya korban menempuh jalur hukum.

Sebagai pengingat kita agar berhati-hati dalam berinvestasi, kita bisa mundur beberapa tahun ke belakang. Saat itu kita kenal yang namanya Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada (KCKGP) yang berhasil menempatkan Cipaganti Group sebagai mitra usaha korporasi nasional terbaik dengan terobosan 3 pilar bisnis, yakni di bidang Properti, Otojasa dan Sewa Alat Berat, serta Pertambangan. KCKGP berhasil menarik sekitar 8000 mitra usaha yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia dan diperkirakan 50% mitranya merupakan pensiunan BUMN dan PNS. Mereka bermitra dengan penyertaan modal usaha minimum Rp. 100 juta. Sebagai imbal balik (return), KCKGP menjanjikan profit sebesar 1,5-2% perbulannya. Namun basis bisnis KCKGP yang katanya riil, mengalami masalah dan gagal bayar sampai akhirnya pailit. Sampai sekarang, anggotanya tidak mendapatkan kejelasan tentang pengembalian modal penyertaannya. Kebayang kan seandainya kita menjadi korbannya. Lebih ironis lagi, seandainya uang untuk modal penyertaan tersebut juga diperoleh dari pinjaman ke Bank. 

Jadi..yuk hati-hati, cermati dan pelajari dengan seksama seandainya kita memutuskan untuk berinvestasi. Jangan sampai kita berharap keuntungan namun malah berakhir buntung. Kalo berkenan, silahkan tuliskan komentar seandainya ada sahabat yang pernah menjadi korban penipuan investasi bodong agar menjadi pengalaman buat yang lainnya.

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

First