10 Mimpi di Usia ke 10

ANAK3.COM - 10 Mimpi di Usia ke 10. Ini cerita tentang Sulung yang baru kemarin berusia 10 tahun dan membuatku terkesan. Alhamdulillah. Rutinitas harian ba’da shalat Maghrib adalah menyimak si Sulung membaca Al Qur’an. Rutinitas ini sama seperti masa kecilku. Entah sudah ada penelitian atau belum, aku perhatikan kalau orang yang terbiasa membaca Al Qur’an sejak kecil dan taat kepada orang tua, maka saat dewasa hidupnya relatif banyak kemudahan.

Selesai aktifitas ini, kami biasa nonton bola kalo ada siaran langsung, sembari ngobrol tentang kesehariannya di sekolah.

“Ka, tadi ada yang seru nggak di sekolah?”
“Biasa-biasa aja yah, nggak ada yang seru. Tadi baru main bola sebentar, eh pak Agus udah datang.” 


Ini jawaban standar si Sulung kalo menurutnya tidak ada kejadian yang menarik. Pak Agus ini adalah mang ojek langganan yang biasa menjemputnya pulang sekolah. Sambil menunggu jemputan masing-masing, Sulung dan teman-temannya biasa bermain bola di lapangan sekolah. Jadi mereka malah lebih senang dijemput sekitar setengah jam setelah bubaran sekolah, karena ada waktu bermain bola.
Tak seperti biasanya, kemarin selesai membaca Al Qur’an, Sulung dengan antusias bercerita.

“Yah, tadi di sekolah seru loh.”
“Seru kenapa? Ada cerita baru dari Ust. Rahman?” tanyaku. 


Aku sudah hafal guru favoritnya. Menurutnya, Ust. Rahman tidak membosankan karena mengajarnya diselingi dengan banyak cerita yang menambah pengetahuan.

“Bukan yah, tadi kan pelajaran tematik, sub temanya Cita-citaku, sama ust. Rahman disuruh menuliskan 10 mimpi. Ayah mau tau nggak 10 mimpi atau cita-citaku?” Sulung mengulurkan buku tematiknya.

Sejenak aku membacanya dan ....
“Yah...kenapa tertawa? Bagus kan cita-citaku?” kata Sulung dengan penuh selidik melihatku tertawa.


10 mimpi di usia ke 10

Iya, bagaimana tidak tertawa membaca 10 mimpinya. Bukan meremehkannya, ternyata tanpa kita sadari, anak adalah seorang pembelajar sejati. Dia belajar dengan cara mendengar, melihat dan mengamati apa-apa yang ada di sekitarnya. Menurut Psikolog, mimpi atau cita-cita amatlah penting, karena menjadi gambaran tentang masa depan apa yang ingin kita jalani. Cita-cita akan memotivasi kita untuk selalu berjalan ke depan. Cita-cita juga akan melatih daya juang dan fokus seseorang sekaligus melatih rasa putus asa dan kecewa.

BACA JUGA : PENGALAMAN MENGEMBALIKAN BARANG KE LAZADA DAN REFUND

Anak zaman now, berbeda jauh dengan masa dulu.  Alam bawah sadar mereka sudah bisa memberikan lintasan yang ingin mereka lalui. Setidaknya ini yang bisa kutangkap dari ke 10 mimpi si Sulung. Mimpi pertamanya sungguh dahsyat, ingin menjadi Presiden Indonesia.

“Ka, kenapa pengin jadi Presiden?” tanyaku penasaran.
“Iya lah yah, teman-teman kan banyak yang pengin jadi dokter, guru, pilot, polisi, tentara, ustadz. Nggak ada yang mau jadi Presiden, ya udah aku aja yang jadi Presiden. Kan harus ada Presiden, bener nggak?” 


Hmm, iya juga. Logika sederhana dari anak berusia 10 tahun, namun relevan dengan kondisi saat ini. Misalnya saat sebagian orang mencibir dunia politik sebagai dunia yang penuh intrik, kotor, penuh rekayasa, dan sarang koruptor. Masa iya orang-orang yang berkompeten harus menghindari politik dan apatis? Kalo itu terjadi, ya tidak heran kalo dunia politik memang penuh dengan koruptor. Saat sebagian besar orang berteriak pisahkan politik dan agama, maka tidak heran yang menguasai dunia politik adalah politisi yang tak beragama. Eh kok ngomongin politik... Jadi iya, poinnya adalah mesti ada orang-orang berkompeten yang bersedia memikul tanggung jawab untuk mengurusi kemaslahatan bersama.

Ahh sepertinya akan ngelantur ke mana-mana kalo ke 10 mimpi Sulung diulas satu persatu. Secara keseluruhan, Sulung mulai belajar membuat jalannya sendiri. Dia mulai memahami pentingnya menyelaraskan kesuksesan dunia dan kesuksesan akhirat. Dia juga belajar menghargai kebersamaan dalam sebuah keluarga, dengan mimpinya untuk berhaji sekeluarga. Dia mulai mampu melukiskan dirinya agar kelak menjadi pribadi yang bahagia, pribadi yang sukses dunia akhirat dan menikmatinya dengan around the world. Subhanalloh... Terima kasih ke semua guru-guru dan para sesepuh yang telah ikut membimbing si Sulung.

10 mimpi di usia ke 10

Moral story buatku : semoga tidak lelah mendampingi anak-anak menemukan jalannya. Tidak memaksa mereka mau menjadi apa, kenalkan mereka dengan Tuhannya, bentuklah karakter mereka. Tidak perlu risau dengan kecerdasan mereka karena kecerdasan tidak akan bisa mengisi kekurangan moralitas, tetapi moralitas atau karakter yang baik akan melengkapi kecerdasan mereka. Rabbi habli minash sholihin...Semoga engkau semakin kuat, mandiri, sukses dunia akhirat dan menjadi pribadi yang bermanfaat buat masyarakat. Aamiin

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »