Benarkah Anak SD Tidak Perlu Diberi PR?

ANAK3.COM - Benarkah Anak SD Tidak Perlu Diberi PR? Hasil riset dari Harris Cooper tentang efek pemberian Pekerjaan Rumah (PR) bagi anak SD cukup mencengangkan. Penelitian selama 25 tahun,  menunjukkan bahwa PR bagi anak SD membawa dampak negative. Etta Kralovec, seorang profesor di bidang pendidikan dari University of Arizona, pun setuju dengan penelitian tersebut, PR tidak bermanfaat untuk anak SD.

Setidaknya ada 5 (lima) alasan menutur Cooper, Guru SD tidak perlu memberikan PR :

BENARKAH ANAK SD TIDAK PERLU DIBERI PR?
  1. PR dapat menimbulkan dampak negative bagi perilaku anak terhadap sekolah. Anak yang masih duduk di bangku SD, membutuhkan adaptasi dengan lingkungan barunya. Keinginan mereka untuk bermain masih lebih besar dibandingkan mengerjakan banyak tugas  yang diberikan guru. Pendidikan di SD semestinya bisa menjadi masa yang menyenangkan bagi anak-anak agar terbentuk memori bahwa belajar itu menyenangkan. Anak-anak tidak boleh merasa terbebani dengan PR. Jangan sampai anak beranggapan bahwa belajar adalah aktifitas yang menyebalkan sehingga bisa berdampak anak membenci atau mogok sekolah.
  2. PR dapat menyebabkan disharmoni dan merusak hubungan personal antara anak dan orangtua. Mungkin salah satu tujuan guru memberikan PR adalah untuk mendekatkan orangtua agar ikut terlibat dalam pendidikan anaknya. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Anak SD cenderung masih perlu diingatkan oleh orangtua untuk mengerjakan PR. Mereka yang sudah seharian capek di sekolah, menjadi bosan karena seringnya diingatkan orangtua. Kondisi seperti ini dapat memicu pertengkaran kecil diantara mereka. Akibatnya, terjadilah disharmoni, yang dapat berefek rusaknya hubungan personal antara anak dan orangtua.
  3. PR tidak efektif menimbulkan rasa tanggung jawab. PR yang difungsikan untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab juga tidak sepenuhnya efektif, karena pada masa ini, anak-anak masih belum memiliki kesadaran yang tumbuh dengan sendirinya. 
  4. PR mengurangi waktu anak menikmati masa kecilnya. PR membuat waktu anak tersita. Setelah seharian mereka bersekolah, seharusnya sisa waktu dapat mereka miliki untuk bermain bersama teman-temannya. Masa kecil seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri dengan banyak melakukan aktifitas fisik dan bermain di luar rumah.
  5. PR cenderung mengurangi waktu tidur anak. Waktu tidur yang ideal buat anak-anak sekitar 10 jam. Jika sepulang sekolah atau pada malam hari anak masih harus mengerjakan banyak PR, maka dikuatirkan akan mengurangi jam tidur anak sehingga kondisi anak menjadi kurang fresh di keesokan paginya.
BACA JUGA :  10 MIMPI DI USIA KE 10

Sampai sekarang masih terjadi pro kontra pelarangan pemberian PR kepada anak SD. Bahkan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, resmi mengeluarkan aturan pelarangan pemberian PR akademis untuk siswa SD sampai SMA dengan Surat Edaran Bupati Purwakarta No 421.7/2014/Disdikpora tanggal 1 September 2016. Menurut Dedi, PR yang diberikan ke siswa seharusnya PR yang aplikatif. Siswa diberikan PR untuk langsung mempraktikkan teori yang sudah didapatnya. Misalnya untuk pelajaran Biologi, siswa diberikan PR untuk membuat pupuk organik dari kotoran sapi atau domba. Harapannya siswa bisa menjadi generasi yang mampu memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat.

PR itu menyenangkan

Dari pengalaman mendampingi anak yang masih di level 1 dan 4 serta bacaan dari beberapa artikel, PR sebenarnya bermanfaat untuk anak dengan beberapa catatan, diantaranya :
  1. PR yang diberikan kepada anak SD tidak terlalu banyak. Misalnya hanya seminggu sekali atau maksimal 2 kali, disesuaikan dengan tema yang sedang dipelajari. Contoh, minggu ini anak level 4 sedang belajar tematik dengan subtema cita-citaku. Maka PR yang bisa diberikan di akhir pekan adalah menuliskan cerita tentang profesi yang dimiliki oleh orang terdekat misalnya profesi ayah, ibu atau kerabat yang lain. Dengan demikian, anak belajar mengeksplore sebuah profesi secara langsung.
  2. Orangtua tidak terlalu banyak ikut camput. Biarkan anak-anak belajar menyelesaikan tugasnya. Orangtua boleh menemani, mengoreksi atau memeriksa hasil pekerjaan anaknya, tapi tidak ikut mengerjakannya. Jika masih ada kekeliruannya, sebaiknya orangtua mmberikan penjelasan tentang cara penyelesaiannya bukan langsung memberikan jawabannya. Membantu anak secara berlebihan dalam mengerjakan PR, tidak akan membantu anak memahami materi tersebut. Biarkan anak untuk belajar memenuhi tanggung jawabnya dan orangtua tetap dapat memelihara hubungan kedekatannya dengan anak.
  3. Guru harus bisa memahami secara konkret tujuan memberikan PR. Umumnya guru memberikan PR adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diajarkan, mematangkan konsep siswa terhadap apa yang sudah dipelajari, mengejar ketertinggalan siswa yang disebabkan beberapa faktor misalnya anak sakit, terpotong hari libur atau cuti bersama, sementara kurikulum harus tepat sesuai jadwal, dan untuk persiapan materi baru selanjutnya.
Semoga anak-anak kita tidak terbebani dengan PR dan sebagai orangtua bisa bijak memahami tentang pro kontra pemberian PR bagi anak SD. (Gambar : Pixabay)

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »