Bekal Agar Anak Jadi Pemimpin

ANAK3.COM - Bekal Agar Anak Jadi Pemimpin. Setiap manusia sejatinya seorang pemimpin. Ditinjau dari luas lingkupnya, maka dapat dibedakan ke dalam 2 lingkup. Lingkup terkecil, manusia adalah pemimpin bagi dirinya, sedangkan lingkup yang lebih besar, ia bisa menjadi pemimpin bagi keluarganya, lingkungan atau masyarakat sosialnya.

Peranan seorang pemimpin dalam kehidupan bersosial sangat penting, seperti yang tersirat dalam penciptaan manusia, dalam surah Al Baqoroh: 30; ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya AKU hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...’”.

Bagaimana cara agar anak bisa menjadi pemimpin? Apa yang harus dipersiapkan oleh orangtua?



Orangtua dapat mempersiapkan beberapa bekal agar anak dapat menjadi pemimpin yang menjadi rahmat bagi semua makhluk-Nya. Bekal tersebut diantaranya :

1. Bekal Keimanan

Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa syarat utama kepemimpinan adalah keimanan. Hal ini sejalan dengan tugas dasar seorang pemimpin dalam konteks luas, yaitu memimpin dan mengatur kehidupan berdasarkan petunjuk dan aturan Alloh SWT, memakmurkan bumi dan memanfaatkan potensi yang terkandung di dalamnya untuk kesejahteraan bersama berdasarkan petunjuk dan aturan Alloh SWT, dan menyebarkan keadilan untuk semua makhluk.

2. Bekal Ilmu Pengetahuan

Salah satu keunggulan diciptakannya manusia adalah diberikannya akal untuk menyerap dan memahami ilmu. Ilmu inilah yang meninggikan derajat manusia di hadapan Malaikat dan makhluk lainnya. Kita bisa memahami bahwa wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, mengandung prinsip intelektual dan keilmuan yang mendasar, yaitu membaca dan proses pengajaran. Konsep inilah yang menghidupkan tradisi dan menjadi ruh pendidikan.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia menciptakan manusai dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha mulia. Yang (mengajar) manusia dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq [96] : 1-5)


Penggalan ayat di atas, menyiratkan bahwa dalam Islam, segala sesuatu di dunia termasuk ilmu pengetahuan adalah berasal dari Sang Khaliq, Alloh SWT. Hibbah Rauf Izzat dalam bukunya, Wanita dan Politik Pandangan Islam, menyatakan bahwa ada dua jenis ilmu yaitu ilmu syariat dan ilmu fithrah.

Ilmu syariat bersumber dari wahyu yang berisi ajaran agama sebagai petunjuk bagi manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia yang fana, agar mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Sedangkan ilmu fithrah adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia beserta segala dimensinya, yang dibutuhkan untuk keperluan kehidupan social, politik, ekonomi bisnis dan hubungan sesame manusia lainnya.

BACA JUGA : MELATIH KECERDASAN FINANSIAL ANAK

3. Bekal Akhlak Mulia

Imam Ghazali memberikan pendapat, akhlak merupakan suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, yang darinya muncul perbuatan secara mudah, tanpa perlu pertimbangan pemikiran. Sedangkan yang dimaksud dengan akhlak mulia adalah kondisi kebatinan yang baik.

Akhlak merupakan hasil daya upaya dalam mengolah seluruh potensi ruhiah yang dimilikinya, sehingga diperlukan pembinaan yang dirancang dengan komperehensif serta diaplikasikan dengan sebaik-baiknya agar menghasilkan generasi yang berakhlak mulia.

Secara garis besar, akhlak dapat dibedakan ke dalam 3 lingkup, yakni akhlak kepada Alloh SWT, akhlak kepada sesama manusia dan terakhir akhlak terhadap lingkungan.

Akhlak terhadap Alloh mengandung pengertian sikap ketundukan atau perbuatan yang dilakukan manusia dalam posisinya sebagai makhluk dan Alloh sebagai Khalik atau Pencipta. Implementasinya adalah penghambaan manusia terhadap Alloh yang berupa ibadah, dengan menjalankan perintah-NYA dan menjauhi semua larangan-NYA.

Akhlak terhadap sesama manusia sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang kelangsungan hidup di muka bumi ini. Diantaranya dalam bentuk larangan untuk melakukan hal-hal tercela, misalnya mencuri, membunuh tanpa alasan syariah, berzina, menyakiti diri sendiri atau oranglain, ghibah. Akhlak mulia yang harus diamalkan, diantaranya: menghormati orang lain, memberi dan menjawab salam, pandai berterimakasih, tidak ingkar janji, tidak mengejek dan mencela, tidak mencari-cari kesalahan orang lain.

Akhlak terhadap lingkungan terkait dengan tugas manusia sebagai khalifah fil ardhi. Kekhalifahan mengandung pengertian perlindungan, pemeliharaan dan bimbingan agar semua makhluk dapat menggapai tujuan penciptaanya. Inilah tanggungjawab manusia yang diberikan Alloh, untuk mengelola bumi beserta isinya, agar tercipta rahmat bagi semesta alam dan keseimbangan hidup.

4. Bekal Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Menurut para ahli, salah satu kunci sukses kepemimpinan yang efektif adalah komunikasi efektif. Komunikasi efektif dapat diartikan sebagai pemahaman bahwa setiap orang memiliki pandangan maupun pola pikir yang berbeda, dan menggunakan pemahaman tersebut sebagai acuan dalam berkomunikasi dengan orang lain sehingga timbul respect satu sama lain.

Orangtua dapat memberikan bekal komunikasi kepada anak dengan cara mengajak anak-anak ke pertemuan-pertemuan orang dewasa, meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi, saling memahami, saling terbuka, berdialog dan mengajarkan kepada anak-anak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan-keputusan keluarga jika diperlukan.

Kakek Nabi, Abdullah, mengajarkan kepada kita, perlunya mengenalkan anak ke pertemuan orang dewasa. Saat itu, beliau Abdullah sering mengajak Nabi ke pertemuan pemuka kaum Quraisy. Pengalaman seperti inilah yang ikut membentuk Nabi menjadi seorang komunikator yang andal.

5. Bekal Kemampuan Wirausaha

Kemampuan wirausaha harus dilatih di rumah sejak kecil. Sejarah telah memberitahukan kepada kita bahwa hamper semua Nabi sudah terdidik dengan kemampuan ini, yaitu dengan menjadi penggembala kambing di usia 7 tahun.

Beliau memperoleh upah dari pekerjaannya ini dan saat berusia 12 tahun, beliau sudah ikut melakukan perjalanan bisnis. Sejarah mencatat bahwa dalam usia 25 tahun, beliau telah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri sebanyak 18 kali, meliputi Yaman, Siria, Busra’, Irak, Jordania serta Bahrein.

Saat ini pun kita mafhum, apabila ingin memimpin, setidaknya kita harus bisa menggabungkan 3 (tiga) kekuatan, yaitu ilmu pengetahuan yang luas, fisik yang kuat dan uang yang banyak. Wallohu a’lam.

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »