Buku Gratis, Ayah Ada Ayah Tiada

ANAK3.COM - Buku Gratis, Ayah Ada Ayah Tiada. Saya mendapatkan buku ini dalam bentuk hardcopy dari emaknya anak-anak, di bulan Desember 2016. Sedikit terlambat memang, karena cetakan pertamanya sudah terbit di bulan Desember 2011. Menariknya, buku ini dipersilakan oleh penyuntingnya, Irwan Rinaldi, untuk digandakan seluruh atau sebagian isi buku, dalam rangka sosialisasi pentingnya peran ayah.

Isi buku ini menurut penyunting, merupakan ungkapan hati anak-anak melalui media tulisan, dan hasilnya mengagumkan. Setidaknya bagi saya yang saat ini masih terus belajar menjadi seorang ayah. Tidak sampai setengah jam untuk membacanya, namun butuh waktu yang panjang untuk bisa memainkan peran ayah seperti suara hati anak-anak.


buku ayah ada ayah tiada


Ayah ada ayah tiada, menjadi bahan renungan buat para ayah, apakah kita termasuk tipikal ayah seperti itu? Fisik kita hadir bersama anak-anak, namun secara psikologis anak-anak tidak merasakan kehadiran ayahnya. 

Buku tipis ini menyentil rasa terdalam seorang ayah untuk melihat kembali perannya dalam setiap detik waktu yang dilalui anak-anaknya. Apakah ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah? Penyuplai kebutuhan materi saja? Ataukah sudah lebih dari itu, ayah hadir sebagai teladan yang menanamkan nilai-nilai kebaikan bukan sekedar dengan kata. Ayah hadir sebagai sosok yang mengarahkan anak-anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ayah ada sebagai pendidik yang memberikan pembinaan dengan cara terbaik sesuai tahap perkembangannya. Ayah selalu hadir sebagai penasihat kala anaknya berada di persimpangan. Ayahlah yang seharusnya menjadi rujukan sang anak dan mengembalikannya ke jalur yang seharusnya.

Tulisan dalam buku ini, memberikan kesadaran kepada ayah agar mau memahami apa yang dirasakan anak, bahkan dalam persoalan sederhana, misal bangun tidur, seperti dalam tulisan "Tenang Ayah, Aku Pasti Bangun". Sebagian dari orangtua (ayah) mungkin merasa kesulitan saat membangunkan anaknya di pagi hari, sehingga tak jarang keluar kata-kata keras, umpatan, cacian bahkan cubitan. Awal hari yang seharusnya di mulai dengan keceriaan, berubah menjadi kemurungan. Alih-alih anak mendapatkan ungkapan cinta dan doa seperti yang dicontohkan kanjeng Nabi, tapi malah mendapatkan celaan yang membuat hati terluka. Duh...maafkan kami nak

BACA JUGA : MEMBIASAKAN ANAK HIDUP SEDERHANA

Para ayah, ayolah...pulang ke rumah dengan segenap jiwamu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Bersamai mereka. Buat anak-anakmu merasa bahwa merekalah permata berhargamu. Ayah... tataplah mereka dengan sepenuh jiwamu, tentu mereka bisa merasakan kehangatan cintamu. Sapalah hatinya dengan kelembutan, niscaya mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh penuh percaya diri.

Silakan sebarkan buku ini, agar semakin banyak ayah yang memahami suara hati anak-anaknya!



Tentang Penyunting
IRWAN RINALDI. Terlahir di sebuah dudun di kaki Gunung Merapi Agam Sumatera Barat. BIARO nama dusunnya. Lulusan Universitas Indonesia dan pernah belajar di salah satu Sekolah Tinggi Filsafat di Jakarta. Sehari-hari bergiat di bidang keAyahan.

*TERIMA KASIH untuk Ayah Irwan Rinaldi atas bukunya, semoga Alloh membalas dengan kebaikan yang berlipat... Aamiin

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »