MEMBIASAKAN ANAK HIDUP SEDERHANA

MEMBIASAKAN ANAK HIDUP SEDERHANA. Hidup sederhana bukan berarti menjalani kehidupan miskin atau pelit, namun hidup sederhana adalah hidup sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta. Perilaku hidup sederhana merupakan sebuah pilihan atas gaya hidup, dengan tidak menghambur-hamburkan harta  untuk sesuatu yang tidak penting, dalam artian mampu menentukan skala prioritas dan membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Tidak semua keinginan menjadi kebutuhannya.

Ada sebuah cerita dari seorang teman. Anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, saat tahun ajaran baru, merengek minta dibelikan sepatu baru dengan merk ternama. Padahal sepatunya belum rusak, masih bisa dipakai. Alasannya meminta sepatu baru, karena malu dengan teman-temannya yang rerata memakai sepatu baru dengan brand terkenal. Ada juga cerita, seorang anak yang mogok ke sekolah kalo diantar memakai sepeda motor, karena rerata teman sekolahnya diantar pakai mobil. Kok bisa anak masih kecil seperti itu? Iya, gaya hidup konsumeristik, yang mengumbar kemewahan dan dipertontonkan setiap hari melalui berbagai media dan tayangan televisi, telah ikut andil meracuni anak-anak dan melunturkan nilai-nilai kesederhanaan.

MEMBIASAKAN ANAK HIDUP SEDERHANA

Meski sulit, orangtua berkewajiban menanamkan nilai-nilai  dan membiasakan anak hidup sederhana, agar kelak dewasa dapat hidup bermartabat dan bahagia. Berikut beberapa hal kecil yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak hidup sederhana : 
  1. Tanamkan kepada anak bahwa rezeki berasal dari Alloh. Kita tidak boleh merasa sombong dengan kelebihan harta yang dimiliki, namun juga tidak boleh minder seandainya harta kita tidak sebanyak yang dimiliki orang lain. Anak juga perlu diberikan pemahaman sejak dini bahwa rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga dalam bentuk lain seperti sehat, kebersamaan keluarga, dan lain sebagainya. Ajak anak untuk menjenguk kalo ada saudara yang sakit, agar anak ikut merasakan betapa “tidak enaknya” jika tertimpa sakit, sehingga diharapkan muncul rasa syukur atas nikmat sehat yang telah Alloh berikan. 
  2. Tidak mengabulkan semua keinginan anak. Orangtua terkadang harus tega untuk mengatakan tidak atau setidaknya menunda keinginan anak, agar anak memahami bahwa semua yang diinginkan di dunia ini tidak selamanya bisa dipenuhi, namun harus disesuaikan dengan kebutuhan. Contoh kecil misalnya mainan, seorang anak pasti akan terus meminta dibelikan mainan, meski di rumahnya sudah ada seabreg mainan. Maka orangtua perlu mulai mengerem keinginan anak dengan cara misalnya mengajak anak membuat mainan sendiri dari kardus bekas. Iya, saya pernah mencoba trik ini saat si Sulung merengek minta dibelikan lego. Kami bersama-sama membuat topeng dari kardus bekas dan membuat baju perang ala gladiator. Atau seperti saat adiknya minta dibelikan slime, kami akhirnya bisa membuatnya sendiri. Alhamdulillah, selain lebih hemat, hubungan orangtua dengan anak juga bertambah dekat. 
  3. Tidak berlebihan dalam menyediakan makanan. Cukup lah memenuhi kebutuhan makan anak dengan mempertimbangkan kebutuhan gizinya. Berikan pemahaman kepada anak bahwa makan enak tidak mesti di restoran yang mahal. Bukan berarti tidak boleh makan di restoran, karena kami pun kalo ada uang lebih, terkadang mengajak anak-anak makan di restoran agar mereka punya pengalaman dan belajar memilih restoran dan makanan yang halal, sesuai budget dan etika makan yang baik. Ada seorang teman yang membagikan cerita melalui grup WhatsApp. Ceritanya tentang sekelompok anak muda Indonesia yang makan di sebuah restoran di daerah Hamburg Jerman. Di samping meja mereka, ada beberapa wanita tua yang sedang memesan makanan. Saat pramusaji menghidangkan makanan, mereka membaginya dan menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

    Karena lapar, sekelompok anak muda Indonesia itu, memesan makanan dalam jumlah banyak. Saat selesai makan, ternyata masih ada sepertiganya yang tidak dihabiskan. Begitu hendak meninggalkan meja, sekelompok anak muda tersebut ditegur oleh salah satu wanita tua. Rupanya wanita itu, tidak senang melihat sekelompok anak muda yang memubadzirkan makanan.

    Kemudian salah satu anak muda berkata kepada wanita itu, “Bukan urusanmu berapa banyak sisa makanan, karena kami sudah membayarnya dengan uang kami sendiri, bukan uang kamu.”

    Wanita itu pun marah dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian, datang seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosial. Setelah mendengar permasalahan yang terjadi, dia pun menerbitkan surat denda 50 Euro (sekira 750k) kepada sekelompok anak muda tersebut, sambil berkata dengan suara ketus, “Pesanlah hanya yang sanggup anda makan. Benar uang itu milikmu, tapi sumber daya alam ini milik bersama. Ada banyak orang lain di dunia yang kekurangan makan. Kalian tidak punya alasan untuk mensia-siakannya.”

    Entah, apakah kisah tersebut benar terjadi? Bagiku kisah ini sungguh berharga agar segera berbenah untuk memakai sumber daya dengan secukupnya saja .
  4. Ajari anak untuk menjaga dan merawat barang miliknya, seperti peralatan tulis dan buku. Meski harganya tidak mahal, anak harus terus dipahamkan agar menghargai barang miliknya dengan cara menjaganya, sehingga tidak timbul sifat boros dalam dirinya. 
  5. Ajari anak mempertimbangkan manfaat dari penggunaan barang. Misalnya di rumah ada mobil, tidak setiap hari juga anak mesti diantar jemput pake mobil, apalagi jarak rumah ke sekolah kurang dari 5 km. Tidak mengapa anak diantar jemput pake sepeda motor, agar anak belajar dari pengalaman, selain menghindari macet, waktu lebih efisien, dan lebih hemat BBM. Bukan berarti anak tidak boleh diantar jemput pake mobil, namun mestinya orangtua dapat menanamkan nilai-nilai tersebut sejak anak masih kecil. 
  6. Sesekali ajaklah anak traveling atau melakukan perjalanan dengan fasilitas yang terbatas. Kami biasanya mengunjungi nenek di luar kota, minimal 3 kali dalam setahun. Kalo mudik lebaran, kami sekeluarga sudah pasti membawa mobil sendiri, namun di luar itu terkadang kami mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi. Awalnya mungkin agak susah, tetapi setelah dua tiga kali, mereka akan menikmati perjalanannya. Momen seperti inilah yang kami pikir, kelak akan berguna bagi masa depannya. Traveling atau perjalanan antar kota bukan sekedar berpindah dari kota satu ke kota lainnya, namun lebih dari itu. Traveling adalah tentang gaya hidup, nilai-nilai dan pembelajaran. 
  7. Biasakan anak untuk berbagi setiap hari meski masih sedikit. Kedua anak kami yang sudah duduk di bangku sekolah dasar, kami biasakan untuk berinfak setiap hari di sekolah, meski dengan nilai yang belum seberapa, seringkali hanya sebesar Rp.2K atau malah hanya Rp.1K, tetapi mudah-mudahan kebiasaan ini akan membekas dan meresap ke dalam sanubarinya sehingga kelak menjadi orang yang mampu menggenggam dunia di tangannya, bukan di hatinya.
BACA JUGA : BEKAL AGAR ANAK JADI PEMIMPIN

Demikian, sedikit yang bisa kami sharing. Meskipun sulit, tidak ada salahnya kita terus mencoba menanamkan nilai-nilai kesederhanaan agar mereka paham bahwa hidup sederhana bukanlah hidup miskin apalagi kikir. Hidup sederhana juga bukan menghinakan diri dengan cara hidup tidak layak, namun hidup sederhana adalah hidup dengan penuh rasa syukur, memanfaatkan harta dengan secukupnya tanpa lupa berbagi kepada saudara dan sesama, serta memiliki skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan.

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
25 Februari 2018 19.33 delete

makasih sharingnya, mbak. memang sebagai orang tua kita wajib mengajarkan nilai kesederhanaan pada anak sejak dini ya

Reply
avatar
25 Februari 2018 22.05 delete

Iya mbak, trima kasih juga sudah berkenan mampir :)

Reply
avatar