SADAWIRA SI ANAK DURHAKA

SADAWIRA SI ANAK DURHAKA. Saat ini Panjalu dikenal sebagai salah satu kecamatan di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Ada cerita rakyat dari Dayeuh Nagasari Panjalu tentang seorang anak yang bernama Sadawira.

Dahulu di daerah yang disebut Dayeuh Nagasari, hiduplah seorang janda tua bersama anak lelakinya yang bernama Sadawira. Sadawira mengandung arti anak lelaki yang tak mengenal takut, pemberani, inilah salah satu harapan orangtuanya memberi nama Sadawira, agar kelak anaknya tumbuh menjadi sosok yang pemberani.

akibat durhaka kepada orang tua

Mereka hanya hidup berdua karena ayahnya meninggal dunia sejak Wira berusia 4 tahun. Mereka saling menyayangi dan hidup tenteram, meski tak banyak harta yang mereka miliki. Untuk mencukupi kebutuhannya , Sadawira terkadang bekerja sebagai buruh di ladang saat musim cocok tanam. Para tetangga mengenalnya sebagai pribadi yang rajin, jujur dan ramah, sehingga disukai banyak orang. Rejeki pun tetap mengalir, meski tidak berlebih.

Suatu hari, setelah bekerja sejak pagi di ladang, Sadawira bersama majikannya, istirahat menikmati makan siang sambil berbincang.

“Sadawira, berapa usiamu sekarang?” tanya sang majikan.
“Kata ibu, mungkin usia saya sekitar 19 tahun, “ jawab Sadawira pendek.
“Kamu sangat rajin, juga cukup pintar, kenapa tidak pergi merantau untuk kehidupan yang lebih baik? Aku dengar dari sahabatku, ada sebuah negeri bernama Panjalu yang makmur. Rakyatnya hidup sejahtera. Sebagian berprofesi sebagai petani dan memiliki sawah ladang yang subur, hingga hasil pertaniannya berlimpah. Sebagian lagi masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang yang menjual hasil pertanian dan kerajinan. Kabarnya, perdagangan di sana maju pesat, banyak pedagang dari negeri lain yang singgah ke Panjalu untuk saling membeli dan menjual barang dagangannya. Kamu bisa mencari peruntungan ke sana,” lanjut majikannya.

BACA JUGA : KISAH PENCARIAN JATI DIRI ANAK

“Saya memang ingin merantau tuan, tapi bagaimana nanti dengan Ibu saya? Beliau sendirian, “ jawab Sadawira. Matanya menerawang jauh, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Sang majikan seolah mengetahui apa yang dirasakan oleh Sadawira. Sambil menepuk pundak Sadawira, majikannya berkata: “Kalo kamu memang memiliki niat yang kuat merantau, cobalah minta izin ke ibumu. Dia tentu akan mengijinkannya jika kamu memiliki alasan yang kuat.”

Sepulang bekerja, Sadawira menemui ibunya dan menyampaikan keinginannya untuk merantau ke negeri Panjalu.

“Ibu, ada hal yang ingin kubicarakan, maafkan seandainya kurang berkenan di hati Ibu,” kata Sadawira memulai percakapannya.
“Ada apa nak? Tidak biasanya engkau bersikap seperti ini, sampaikanlah, Ibu pasti akan mendengarkannya,” jawab ibunya sambil memandang anak lelaki satu-satunya dengan penuh perhatian.
“Aku ingin merantau bu, aku ingin pergi ke negeri Panjalu untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Aku ingin merubah nasib kita,” jelas Sadawira.

Sang Ibu cukup terkejut mendengar keinginan Sadawira. Sambil menghela nafas, ibunya berkata: “Jika kamu sudah bertekad untuk merantau, ibu tentu tidak bisa menghalangi niatmu. Pergilah, ingatlah pesan ibu, kamu di sana sendiri, tidak ada saudara, kamu harus berusaha sungguh-sungguh, lakukan pekerjaanmu dengan sepenuh hati, semoga Tuhan mengabulkan cita-citamu nak.”
“Baik bu, Wira akan melaksanakan semua pesan Ibu. Ibu jaga kesehatan ya, Wira akan pulang menjemput Ibu kalo sudah berhasil,” kata Sadawira dengan sungguh-sungguh.

Ibunya tak kuasa membendung air matanya. Wira, anak lelaki satu-satunya dipeluk dengan erat, seolah enggan melepaskannya. “Siapkanlah bekalmu nak, Ibu hanya punya uang sedikit, bawalah sebagai bekalmu, semoga engkau cepat mendaatkan pekerjaan di sana.”

Keesokan harinya, Sadawira berpamitan. Ïbu, Wira pergi! Jagalah diri ibu, Wira akan segera pulang menjemput Ibu. Kita kelak akan hidup nyaman di Panjalu,” kata Sadawira seraya mencium tangan ibunya. Keduanya berpelukan. Sadawira tak kuasa membendung air mata. Hatinya sedih meninggalkan ibu yang dicintainya.

Kemudian berangkatlah Sadawira. Berhari-hari berjalan kaki menyusuri perkampungan, hutan dan menyeberangi sungai. Butuh tekad yang kuat melakukan perjalanan ini, karena saat itu moda transportasi paling mewah adalah pedati. Semacam gerobag yang ditarik lembu atau kuda. Namun hanya orang kaya tertentu saja yang dapat memiliki karena harganya yang mahal.

Sampailah Sadawira di negeri Panjalu. Ia sangat terkesan dengan kemakmuran negeri ini. Penduduknya ramah, kotanya ramai, jalanan lebar dan bersih. Banyak prajurit yang berlalu lalang, menjaga keamanan dan ketentraman. Pasar pun bertebaran dan ramai. Banyak rumah dan bangunan yang indah, menandakan penduduknya sejahtera.

Sadiwara pun mencari pekerjaan pada seorang pedagang yang kaya. Pedagang tersebut menanyakan asal usul dan tujuannya datang ke negeri Panjalu. Akhirnya Sadiwara diterima bekerja. Majikannya sangat puas dengan pekerjaan Wira, karena ia rajin dan jujur. Pernah suatu hari, majikannya ingin menguji kejujurannya.

Sore hari, sebelum pulang ke rumah, majikannya menjatuhkan perhiasan di dekat meja kerja tokonya. Sadiwara yang bertugas membereskan toko sebelum di tutup, menemukan perhiasan tersebut. Keesokan harinya, Wira menyampaikan temuannya ke majikan. Majikan pun sangat terkesan dengan kejujuran Wira.

Hingga suatu hari, Wira dipanggil oleh majikannya. “Wira, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?’’
“Kurang lebih 3 tahun, ada apakah tuan menanyakannya?” tanya Wira dengan sedikit heran.
“Usaha perdagangan kita semakin maju, aku ingin mengembangkan usaha dengan membuka cabang baru. Bersediakah engkau mengelolanya? Kita akan membukanya di kota bagian Timur, di sana makin ramai, sepertinya akan sangat menguntungkan bagi kita,” jelas sang Majikan.

Wira pun menjawab dengan bersemangat, “Kalo tuan mempercayai saya, saya akan mengelolanya dengan sungguh-sungguh dengan bimbingan tuan.” Hanya butuh 2 tahun, cabang yang dikelola Wira sudah berkembang pesat. Majikan pun sangat senang dengan capaiannya. Ia merasa sangat cocok dengan Wira dan sudah menganggap seperti anaknya sendiri.

Sang majikan terkadang murung memikirkan bisnisnya nanti, karena anak perempuan satu-satunya kurang tertarik dengan bisnis. Ia pun memutuskan akan menikahkan anaknya dengan Wira, dengan harapan anaknya berbahagia karena mendapatkan suami yang bertanggungjawab, pintar berbisnis, ulet dan jujur. Bisnisnya pun kelak bisa diwariskan sepenuhnya kepada anaknya.

Singkat cerita, Wira menikah dengan anak perempuan majikannya. Pesta pernikahan digelar dengan meriah. Banyak kolega dari negeri tetangga berdatangan member selamat. Suasana kota makin ramai, karena di selenggarakan berbagai macam pertunjukkan seni. Kabar pernikahan Wira pun terdengar oleh salah satu warga kampung Dayeuh Nagasari, Tresna tetangga Wira, yang kebetulan sedang berada di Panjalu.

***

Sementara itu, Ibunda Wira mulai sakit-sakitan karena usia yang menua ditambah kerinduan kepada anak lelakinya. Hingga suatu hari, datanglah seorang tamu.

“Sampurasun...”
“Rampes.” Terdengar jawaban dari dalam rumah.
“Ohh akang Tresna, mari masuk, kemana aja, beberapa hari tidak kelihatan di rumah,” Ibu Wira mempersilakan masuk ke rumahnya. Ruang tamu kecil yang sangat sederhana.

“Iya ceu, trima kasih. Ceuceu apa kabar? Sehat?” jawab Tresna sambil duduk di kursi bambu.
“Ceuceu sehat kang, cuma sekarang asa cepet capai, mungkin karena usia kang. Sebentar ya, saya bikin minum dulu,” Kata Ibunda Wira.

“Trima kasih ceu, nggak usah repot-repot. Punten ieu ceu, akang kemari cuma memberi kabar tentang Wira. ”
“Wira? Akang tau kabar Wira? Udah lama sekali nggak ada kabar. Akang tau darimana?” tanya Ibunda Wira dengan tak sabar.

“Beberapa hari yang lalu, akang ke Panjalu, tak disangka Wira sudah menjadi orang sukses. Ia mengelola toko yang besar di kota. Bahkan sekarang sedang melangsungkan pesta pernikahan dengan anak seorang pedagang sukses. Ceuceu tidak tahu?” tanya Tresna dengan hati-hati. Ia sebenarnya tidak tega menyampaikan kabar tersebut. Namun, ia juga merasa kasihan terhadap Ibunda Wira yang setiap hari merindukan kabar anaknya.

“Betul kang? Tidak bohong?” Setengah tidak percaya, Ibunda Wira mendengar kabar anaknya. Sudah hampir 6 sejak Wira pergi, tidak ada kabar berita. Hanya doa yang selalu dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa untuk kebaikan anaknya.
“Betul ceu, akang masih hafal dengan Wira. Meskipun ia sekarang sudah menjadi pemuda yang sangat tampan, akang masih ingat, ia memiliki bekas lika di pergelangan tangan kanan. Betul kan ceu?”

Ada perasaan bangga sekaligus sedih, kenapa putra tersayangnya tidak memberitahukan berita bahagianya. Mungkin jarak yang jauh dan kesibukannya mengelola toko serta persiapan pernikahan membuat anaknya tak sempat meminta restu. Demikian prasangka baik seorang Ibu.
“Akang, maukah mengantar ceuceu ke kota. Saya ada uang untuk bekal. Kalo nanti ternyata kurang, ladang di sebelah rumah bisa dijual. Saya sangat merindukan Wira,” Kata Ibunda Wira.

“Berapa lama perjalanan, kalo kita menyewa pedati kang?” lanjutnya.
“Sekitar 4 hari ceu, nanti akang anter. Ceuceu siapkan bekalnya saja dulu. Dua hari lagi kita berangkat ke kota. Sekarang akang ke rumah juragan dulu untuk membicarakan sewa pedati. Mudah-mudahan diberikan harga yang lebih murah,” sahut Tresna.
“Baik kang, haturnuhun. Punten pisan, sudah merepotkan,” kata Ibunda Wira.
“Sami-sami ceu, tidak merepotkan. Malah akang senang bisa membantu,” jawab Tresna sambil berpamitan pulang.

***

Dua hari kemudian, berangkatlah Ibunda Wira ke Panjalu, ditemani Tresna. Kerinduannya membuat ia bertekad melakukan perjalanan yang jauh.

Di sebuah toko besar, di Panjalu, terlihat orang ramai berbelanja. Inilah toko Wira yang baru buka kembali setelah libur selama sepekan karena pesta pernikahannya.

“Tuan, mohon maaf, ada yang ingin bertemu. Saya sudah menyampaikan kalo tuan sedang sibuk, namun tamu ini keukeuh ingin bertemu Tuan. Mereka mengaku mengenal tuan dan berasal dari tempat jauh.” Demikian laporan salah satu pembantu took kepada tuannya, Wira.
“Ah ada-ada saja, siapa mereka? Suruh mereka masuk!” kata Wira.

Seorang perempuan tua ditemani seorang lelaki setengah baya, masuk dan langsung tertegun melihat Wira. Airmatanya tumpah, tangannya mengembang ingin memeluk Wira.
“Wira... anakku...” seru perempuan itu sambil melangkah cepat kearah Wira.

Wira terkejut, ia tak menyangka ibunya bisa sampai ke tempatnya. Seketika, mukanya memerah, ia sangat malu kepada para pelanggannya. Ia juga berpikir, bagaimana jadinya jika keluarga istrinya mengetahui kalo ibunya masih hidup, karena ia mengaku sudah hidup sebatang kara.
Tanpa berpikir panjang, Wira melangkah mundur, “Siapa kamu perempuan tua, ibuku sudah meninggal beberapa tahun lalu, apa yang kamu inginkan dariku? Apakah kamu ingin uang?”

Ibunda Wira sangat terkejut mendengar perkataan Wira, Ia tak menyangka putra kesayangannya tega mengatakan seperti itu.
“Anakku, aku ibumu, kenapa engkau melupakan ibu?” ratap perempuan tua itu sambil menangis.
“Pergilah, aku tak mengenalmu, jangan ganggu kehidupanku. Bawalah uang ini, dan pergilah sekarang juga. Aku banyak urusan,” Kata Wira dengan ketus.

Akhirnya, Ibunda Wira pergi meninggalkan Wira dengan kesedihan. Tresna yang menemani Ibunda Wira juga tidak dapat berbuat apa-apa. Hatinya ikut merasakan kesedihan.

Kemudian, keduanya pulang kembali ke Dayeuh Nagasari. Beberapa bulan kemudian, Ibunda Wira sakit-sakitan, dan meninggal dunia dengan menanggung kesedihan.

Dan sepekan, setelah kedatangan Ibunda Wira, terjadi kebakaran besar di Panjalu. Toko milik Wira habis terbakar. Tidak ada barang yang tersisa. Harta benda yang diusahakan selama bertahun-tahun, lenyap dalam semalam. Demikianlah kisah anak durhaka. Tuhan akan menyegerakan azab di dunia bagi anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »