CARA AGAR ANAK MAU BELAJAR TANPA DISURUH

CARA AGAR ANAK MAU BELAJAR TANPA DISURUH. Ayah bunda mesti memahami bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Bahkan antara adik kakak pun tidak bisa disamaratakan. Pemahaman dasar ini dapat digunakan sebagai titik awal untuk menyadari kenapa misalnya si kakak mau belajar tanpa disuruh, sementara si adik mau belajar tapi mesti dengan bujuk rayu?

Lingkungan, proses belajar dan karakter anak adalah 3 (tiga) hal yang sangat mempengaruhi dalam menumbuhkan keinginan agar anak mau belajar tanpa disuruh. Ayah bunda, yuk kita urai satu persatu:

cara agar anak mau belajar tanpa disuruh


1. Lingkungan

Siapapun orangnya, baik dewasa maupun anak-anak, pasti menyukai lingkungan yang nyaman untuk aktifitasnya. Maka hal pertama yang mesti dikondisikan adalah ciptakan rumah dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk membuat anak-anak merasa nyaman, diantaranya : 

- Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anak-anak di setiap kesempatan yang dimiliki. Misalnya saat sarapan pagi, si kakak hobinya main futsal dan dia ikut eskul futsal di sekolah. Maka jadikanlah itu sebagai bahan obrolan yang menyenangkan. Jangan kita merasa bosan untuk mendengarkan ceritanya. Mungkin kita akan mendengar dia beberapa kali cerita yang sama. Misalnya cerita si kakak, bagaimana dia sebagai seorang kiper melakukan beberapa kali penyelamatan gemilang. Bahkan sampai dipuji oleh pelatih, penyelamatannya mirip kiper Manchester United, De Gea. Atau bagaimana bangganya dia ketika dielu-elukan oleh teman-temannya dan wali siswa karena menjadi kiper inti yang mengantarkan timnya menjadi juara ke 2 turnamen SAF 2018.

Si adik pun merasa sangat senang, saat kami sekeluarga membicarakan keberhasilannya menjadi juara I Lomba mewarnai untuk level I di acara Pekan Kegiatan Anak Muslim (PKAM) 2018, meski si adik tidak se-ekspresif kakaknya dalam hal bercerita.  

BACA JUGA : BEKAL AGAR ANAK JADI PEMIMPIN

- Manfaatkan libur weekend untuk kegiatan bersama di rumah atau di lingkungan. Libur weekend tidak perlu dipusingkan dengan mikir harus pergi kemana? Atau liburan ke tempat wisata mana? Sering terlihat di tempat wisata, orangtua membawa anak-anaknya liburan, namun aura kebersamaannya sangat kurang. Orangtua asyik dengan gadgetnya dan anak-anak asyik bermain sendiri, rasanya sulit membangun chemistry diantara mereka kalo suasananya seperti itu.

Libur weekend bisa tetap menjadi hal yang menyenangkan dengan kegiatan bersama keluarga di rumah. Misalnya anak-anak suka makan pizza, maka ajak mereka bersama-sama untuk membuat pizza kesukaan mereka. Mungkin dapur akan menjadi sedikit kotor, tapi percayalah itu akan menjadi momen yang menyenangkan.

Cara lainnya, ajak anak-anak bermain sepeda di lingkungan rumah atau nonton film animasi. Kami rutin nonton film animasi bersama anak-anak setiap malam Ahad. Judul filmnya tergantung kesepakatan anak-anak. Meski sudah pernah di tonton, ya nggak apa-apa ditonton ulang.

2. Proses Belajar

Proses belajar yang menyenangkan sangat mempengaruhi anak-anak agar mereka mau belajar tanpa disuruh. Beberapa cara yang bisa Ayah bunda tempuh untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan, diantaranya:

- Terlibatlah dalam proses belajar anak. Jangan hanya menyuruh ini itu, namun juga jangan menekan dan membebani anak dengan hasil seperti yang kita harapkan. Biarkan anak-anak berproses dengan dirinya. Orangtua hanya perlu bersabar dan telaten untuk menemaninya.  Terkadang kita menemukan bahwa mereka berproses dengan jalan yang berbeda, sesuai dengan minat dan kemampuannya.

- Dukung minat dan kreatifitas anak. Misalnya si kakak, terhitung cepat dalam hal menghafal Al Qurán, namun si adik agak kurang dibandingkan dengan kakaknya. Bukan berarti si adik kurang pintar, namun lebih karena dia kurang tertarik dengan hafalan. Buktinya, waktu penerimaan raport level  1, kami ditanya sama wali kelasnya, apakah si adik pernah diikutkan les calistung sebelumnya? Karena kemampuan calistungnya jauh melebihi teman-teman sekelasnya. Kami jawab tidak, kami hanya membelikan buku-buku mewarnai, yang terkadang ada sedikit pelajaran calistungnya dibagian bawah.

Si adik memang hobi mewarnai, bahkan dia memilih ikut eskul Get Colouring. Mungkin di sela-sela mewarnai, saat dia bosan, dia alihkan dengan mengerjakan soal calistung di buku mewarnainya. Ternyata kemampuan akademiknya pun terhitung lumayan, karena dia menempati peringkat ke 3 di kelasnya, meski di rumah waktunya lebih banyak untuk mewarnai gambar dibanding membaca buku pelajaran.

- Berikan pujian atas pencapaiannya. Semua anak pasti senang dipuji, apalagi oleh keluarga dekatnya. Maka berikanlah pujian, meski untuk hal yang terlihat remeh. Seperti si bungsu yang saat ini berusia 3 tahun, ia mulai mengikuti kakaknya yang gemar mewarnai. Saat dipuji, hasil mewarnainya tidak keluar garis, ia sudah sangat senang. Dan hasilnya di luar ekspektasi, waktu bermainnya tidak dihabiskan dengan menonton TV atau bermain gadget, tapi dengan mewarnai atau bersepeda. Kegiatan yang sangat baik untuk melatih motoriknya dan menumbuhkan imajinasinya.

3. Karakter Anak

Anak-anak memiliki kemampuan dan minat yang berbeda. Jadi dekatlah dengan mereka agar kita memahami karakternya. Biarkan anak-anak mengungkapkan keinginannya, kita hanya perlu menjadi pendengar dan mendiskusikannya dengan bahasa yang mereka pahami. Terkadang orangtua lupa, bahwa anak-anak adalah pribadi yang sedang bertumbuh. Jadi biarkan mereka tumbuh dengan baik, dengan tidak mencela kekurangannya. Beberapa hal yang dapat diterapkan orangtua dalam memahami karakter anak, diantaranya:

- Menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak mengungkapkan pendapatnya, keinginannya atau keluh kesahnya dengan sungguh-sungguh. Anak dapat merasakan loh, kesungguhan kita dalam mendengarkan ceritanya. Jangan sampai kita mendengarkan mereka, tapi tangan dan mata kita tetap pada gadget. Matikan atau simpan gadget di luar jangkauan agar kita fokus dengan anak-anak. Buat anak-anak merasa bahwa cerita mereka sungguh berharga bagi orangtuanya.

BACA JUGA : MEMBIASAKAN ANAK HIDUP SEDERHANA

- Pahami tipe emosional anak. Untuk urusan mengatur waktu, si kakak yang sudah di level 4, meski lelaki, termasuk tipe yang sangat teratur. Ba’da ashar, dia bermain bersama teman tetangga rumah, kemudian mandi, menyiapkan tempat untuk shalat Maghrib berjamaáh, membaca Al Qurán, mengerjakan PR (kalo ada) dan menyiapkan buku pelajaran untuk esok harinya. Buku-buku juga rapi di tempatnya.

Sedikit berbeda dengan adik perempuannya yang masih di level 1, sang adik terkadang masih cuek. Diminta tolong si kakak, membantu menyiapkan sajadah untuk shalat Maghrib berjamaáh, terkadang masih belum mau. Kalo sudah begitu, si kakak akan meneriakinya, dan alhasil butuh beberapa menit tambahan untuk mendamaikan keduanya sebelum shalat Maghrib berjamaáh di mulai. Dalam kondisi seperti inilah, orangtua harus bisa memainkan perannya, untuk menasihati keduanya tanpa anak merasa orangtua berat sebelah.

Kunci keberhasilannya adalah pada keteladanan orangtua. Anak-anak akan cepat sekali belajar dengan memperhatikan sikap, perkataan dan perbuatan orangtuanya, sehingga pembentukan karakter adalah sebuah proses yang panjang dalam mendidik anak.

Semoga kita selalu diberikan kesabaran dan semangat untuk terus mendidik anak-anak menjadi generasi yang berkualitas, generasi yang mampu membawa kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya. Aamiin...

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

4 komentar

komentar
24 Maret 2018 00.28 delete

Di lingkungan tempat tinggal saya ada beberapa tempat les yang bisa di datangi, karena ada anak yang datang kesana dan prestasi mereka meningkat, akhirnya banyak yang pengen ikutan. Tanpa disuruh anak-anak disini sudah rajin belajar

Reply
avatar
25 Maret 2018 17.44 delete

Iya mbak, lingkungan memang sangat mempengaruhi anak. Lingkungan yang baik, insya Alloh akan membantu menumbuhkan karakter yang baik juga buat anak... :)

Reply
avatar
17 April 2018 16.40 delete

yang paling susah itu jadi pendengar yang baik untuk cerita yang panjang dan diulang-ulang. Kadang saya harus fokus juga ke adiknya yang balita. Tapi saya sih dengarkan. Hanya saja si Abang suka mengeluh karena mata saya tidak ke dia. hiks.. Perlu belajar banyak nih

Reply
avatar
17 April 2018 17.24 delete

Saya pun terkadang mengalami hal seperti itu mbak Ade, Alhamdulillah si bungsu udah 3 tahun, jadi udah mau mengerti kalo ceritanya harus bergantian, semua dapat kesempatan, jadi ya seru aja hihi Tks mbak Ade :)

Reply
avatar