Perjalanan Mantan Tukang Becak yang Sukses Menjadi Jutawan

Perjalanan Mantan Tukang Becak yang Sukses Menjadi Jutawan. Dua puluh tahun yang lalu, mungkin tidak ada yang menyangka jika pak Katim bisa memperoleh kesuksesan seperti sekarang. Hal tersebut wajar, karena saat itu, pak Katim adalah seorang tukang becak yang mangkal di pertigaan dekat masjid besar. Setiap hari, pak Katim menjalani profesinya, mengantarkan para pelanggan ke tempat tujuannya. Waktu itu, becak masih bisa diandalkan untuk mengais rezeki, meski dengan hasil pas-pasan. Agar kebutuhan keluarga tercukupi, istri pak Katim ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan di rumah.

Namun sekarang, keluarga pak Katim sudah dikenal sebagai wiraswastawan yang sukses. Warung yang dikelolanya berkembang pesat, dengan omset harian mencapai jutaan rupiah. Pak Katim dan istrinya pun mempekerjakan 3 orang untuk membantunya melayani para pelanggan. Bagaimana kisah sukses perjalanan pak Katim? Simak kisahnya di bawah ini.

inspirasi sukses mantan tukang becak menjadi jutawan

Kehidupan keluarga pak Katim dan keluarga lainnya yang tergabung dalam satu RT, berubah ketika rumah sederhana yang mereka tinggali, tergusur oleh pemodal yang ingin membangun pusat perbelanjaan di wilayah mereka. Warga satu RT yang sudah seperti keluarga besar itu pun terpencar, namun sebagian masih tetap menjalin silaturahim dalam bentuk arisan bulanan, sampai sekarang.

Berbekal uang penjualan atau ganti rugi tanah dan bangunan miliknya, pak Katim membeli sebidang tanah dan membangun rumah yang sangat sederhana sebagai tempat tinggalnya. Lokasinya jauh di dalam gang, hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor, dengan kondisi jalan yang naik turun dan sempit.

Sisa uangnya dipakai sebagai uang muka pembelian angkot seken. Pak katim membelinya dengan pertimbangan:
  1. Uang muka masih terjangkau, dan tidak perlu ribet mengurus ijin trayek karena pembelian tersebut sudah termasuk ijin trayek yang dimiliki pemilik angkot yang lama.
  2. Angkot tersebut, selain digunakan sebagai angkutan umum, juga akan digunakan sebagai alat pendukung usaha barunya yang akan dirintis oleh sang istri yaitu buka warung yang menyediakan sayur mayur, lauk pauk dan kebutuhan dapur lainnya.
Pak Katim dan istri merintis usahanya, dengan menyewa tanah kosong di pinggir jalan. Hanya dengan atap seng seadanya, mereka memulai usaha warung ini. Setelah shubuh sampai tengah hari, tanah kosong ini dipakai untuk berjualan dan malam harinya dipakai untuk tempat parkir angkot. Mereka mulai menggerakkan usahanya mulai lewat tengah malam. Sekitar jam 2 pagi, pak Katim dan istri, dengan menggunakan angkot miliknya, sudah pergi ke pasar yang berjarak sekitar 3 km, untuk memilih sayur mayur, lauk pauk  dan berbagai kebutuhan dapur lainnya.

Selepas shubuh, istri pak Katim sudah siap melayani para pelanggan yang datang ke warungnya, sedangkan pak Katim mengoperasikan angkot. Di luar dugaan mereka, usaha warung berkembang sangat pesat. Kesuksesan usaha warung ini dimungkinkan karena:
  1. Belum ada warung yang berjualan sayuran di wilayah sekitar tempat tinggal mereka. Mungkin saat itu, belum terpikir oleh yang lainnya karena sudah ada pasar yang hanya berjarak 3 km. Faktanya sebagian warga lebih memilih berbelanja di warung dibandingkan ke pasar.
  2. Pak Katim dan istri sangat piawai memilih sayur mayur yang segar, daging, ikan dan lainnya, ditambah mereka rutin serta displin pergi ke pasar lewat tengah malam, pada saat pasar baru mulai beraktifitas dengan bongkar muat barang dari supplier. Ini salah satu rahasia mereka mendapatkan barang dagangan dengan kualitas nomor satu.
  3. Barang dagangan mereka dikenal dengan kualitas baik dan harga yang cukup murah, sehingga konsumennya puas dan menjadi pelanggan tetap. Harga bisa cukup murah karena mereka bisa menekan ongkos angkut barang dagangan dari pasar ke warungnya dengan  angkot yang mereka miliki. Ini salah satu rencana yang brilian saat memutuskan membeli angkot, karena menopang kelancaran usaha warung yang dirintisnya.
  4. Hubungan dengan para pelanggan terjalin dengan baik. Sampai sekarang, di wilayah tempat tinggal pak Katim, masih banyak warga yang meskipun menggelar hajatan di gedung, namun untuk konsumsinya tidak ditangani oleh pihak catering tapi masih ditangani oleh pihak keluarga sendiri. Mungkin karena sifat kekeluargaan yang masih kental. Pihak keluarga dibantu saudara dan tetangga biasanya masak sendiri, dan pak Katim lah yang menyuplai semua kebutuhan untuk konsumsinya. Pembayarannya setelah hajatan selesai. Hubungan yang saling menguntungkan kan? Karena pihak yang punya hajatan, bisa mempending anggaran untuk kebutuhan konsumsi, dan pak Katim pun memperoleh keuntungan yang tidak sedikit. 
  5. Mereka memiliki sifat yang ramah, mudah bergaul, rendah hati dan tidak suka menonjolkan kesuksesan. Mereka tetap menjadi pribadi yang sederhana dan tetap menjalin silaturahim. Bahkan dengan kesibukannya, mereka tetap mengikuti arisan bulanan dengan mantan warga RT yang dulu terkena gusuran.
Baca juga : Sadawira Si Anak Durhaka

Sekitar 5 tahun yang lalu, pak Katim sudah membeli tanah dengan luas sekitar 250 meter persegi di pinggir jalan dan di atasnya sudah dibangun rumah berlantai 2, serta mobil MPV terbaru. Rumah lamanya ditempati oleh anak pertamanya. Ketika pak Katim ditanya oleh salah seorang anggota arisan, berapa harga tanahnya, beliau hanya menjawab, “180 jutaan”. Padahal saya yakin, harganya jauh di atas itu, karena kavling kosong di sebelahku saja laku segitu dengan luas hanya 90 meter persegi. Seandainya dikalkulasi dengan harga pasar, nilai aset pak Katim di atas 2 milyar. Namun karena pribadinya yang low profile, beliau tidak mau menyombongkan diri.

Dari perjalanan sukses pak Katim sebagai mantan tukang becak, ada beberapa hal yang beliau lakukan dalam meraih sukses, diantaranya:
  1. Mampu mengubah kebiasaan. Siapapun pasti pernah merasa tidak nyaman jika melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan, termasuk harus beradaptasi dengan suasana dan lingkungan yang baru. Pak Katim bisa menjadi contoh sukses, bagaimana dirinya beserta istri mengubah kebiasannya, bangun tengah malam kemudian pergi ke pasar dan beradapatasi dengan lingkungan pasar serta kehidupanan jalanan. Susah loh, saya sendiri ingat, hanya sekedar ingin bisa menyetir mobil pun butuh keberanian dan tekad yang kuat.
  2. Berani mengambil resiko. Sebagian besar orang mungkin akan merasa cukup jika sudah bisa mencukupi kebutuhan makan, namun pak Katim belum cukup. Beliau memuta otak untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Tentu dengan resiko kegagalan. Dan tidak semua orang siap dengan resiko kegagalan. Hanya orang-orang bermental baja yang sanggup mengambil resiko.
  3. Berani memulai usaha. Keberanian seperti pak Katim tidak dimiliki oleh semua orang. Banyak orang yang ingin sukses berbisnis, tapi hanya sedikit yang memulai usahanya. Kendalanya bisa dari dalam diri sendiri, bisa juga dari luar dirinya seperti keluarga atau lingkungannya. Keluarga tidak mendukung untuk memulai usaha, karena hasilnya yang belum pasti. Ini disebabkan karena pola pikir yang sempit dan anti perubahan, takut untuk keluar dari zona nyaman. Persis seperti tingkah para kepiting. Para kepiting yang di taruh dalam sebuah baskom, kemudian ada satu dua kepiting yang berusaha keluar dari dalam baskom tersebut. Ternyata kepiting tersebut mengalami kesulitan, bukan karena ketidakmampuannya, tapi karena kepiting yang lain menariknya kembali ke bawah, sehingga sang kepiting terjatuh kembali. Begitu seterusnya, dan anehnya jika ada satu kepiting yang berhasil, maka yang lainnya akan beramai-ramai mengikutinya. Dari kepiting ini, kita bisa belajar bahwa dibutuhkan keinginan yang kuat dan kerja keras agar dapat keluar dari lingkungan yang kurang mendukung kita.
  4. Fokus pada usahanya. Sebuah perjalanan panjang menuju kesuksesan, pasti ada saja kendala dan godaannya. Maka yang diperlukan hanyalah fokus pada tujuan. Dan pak Katim mampu tetap fokus pada usahanya, meski kesuksesan telah berhasil diraihnya. Beliau mampu mengatasi kendala yang ada dan mampu mengendalikan berbagai godaan yang mungkin saja datang mendera.
  5. Tetap menjalin silaturahim. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, disebutkan bahwa Rasullullah bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” Silaturahim bagi para pebisnis atau wiraswastawan, mutlak diperlukan, sebab dengan silaturahim lah, jaringan bisnisnya akan semakin kuat dan dikenal oleh orang lain.
Begitulah kisah pak Katim, seorang mantan tukang becak yang sukses menjadi jutawan. Semoga terinspirasi ketika membaca kisahnya. Aamiin

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

12 komentar

komentar
13 April 2018 08.43 delete

Saya suka kalau baca kisah inspiratif begini. Sosok yang gak kebanyakan mengeluh :)

Reply
avatar
13 April 2018 19.23 delete

karena sukses adalah hasil dari proses, dan yang sabar serta tekun berusaha akan mendapatkan buah dari usaha... :D terimkasih bacaannya kak

Reply
avatar
16 April 2018 18.18 delete

Iya kak, sosok yang pantang menyerah, selalu menginspirasi...:)

Reply
avatar
16 April 2018 18.20 delete

Benar kak, usaha yang sungguh-sungguh, kerja keras takkan mengkhianati hasil. Tks kembali kak :)

Reply
avatar
17 April 2018 00.56 delete

Nama blognya lucu mas... Anak3.. anak ke-3 atau punya anak 3? Hehe..

Postingannya keren.. jujur, saya selalu 'merinding' kagum kalo baca success story dari orang2 yg berjuang tanpa kenal kata menyerah..

Salam.

Reply
avatar
17 April 2018 01.55 delete

Nama blognya sependek dan sesimpel mungkin kak, biar gampang diingat hihi

Reply
avatar
17 April 2018 21.03 delete

Ya ampun, semangat bgt yaa ni org sama istrinya. Point penting yg q garis bawahi adalah mengubah kebiasaan.. Hhhh

Reply
avatar
17 April 2018 22.01 delete

Iyaa mbak Ella, pak katim dan istrinya ini memang memiliki semangat yang luar biasa untuk mengubah nasibnya, dan mereka 100% saling mendukung :)

Reply
avatar
8 Mei 2018 07.45 delete

teernyata dibalik cobaan yang hadi saat digusur muncul pula kebaikan yang mendampingi, mungkin jika tidak digusur Pak Katim akan tetap seperti dulu. Memang kita sebaiknya selalu berprasangka baik terhadap apa yang terjadi, karena yang Maha Mengetahui tau apa yang terbaik untuk kita

Reply
avatar
8 Mei 2018 18.16 delete

Iya kak, ternyata tidak semua yang terlihat buruk selalu berakhir buruk ya. Ada kebaikan di setiap peristiwa. Mungkin inilah perlunya kita mesti berkhusnudzon ya kak. A blessing in disguise...:)

Reply
avatar
15 Mei 2018 17.38 delete

Ini namanya blessing in disguise, ya. Ga ada yang nyangka penggusuran rumahnya jadi pembuka rejeki

Reply
avatar
20 Mei 2018 20.13 delete

Iya kak Efi, blessing in disguise :)

Reply
avatar