Simbolisme Punakawan dalam Budaya Jawa

Simbolisme Punakawan dalam budaya Jawa. Salah satu tugas orangtua yang tidak boleh terlewatkan adalah mengenalkan budaya leluhur pada anak. Mengapa? Agar anak memahami budayanya dengan baik sehingga timbul rasa memiliki dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya. Harapan seperti inilah yang mendorongku untuk menghadirkan secuil tulisan ini, agar anak-anakku yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang berbeda, kelak memiliki keingin-tahuan untuk memahami filosofi dan budaya leluhurnya. Dari sekian banyak budaya Jawa dalam bentuk kesenian, yang menarik perhatianku adalah wayang kulit.

Wayang kulit merupakan salah satu kesenian Jawa yang masih eksis. Bagi generasi yang lahir tahun 80an, tentu tak asing dengan pertunjukan wayang kulit. Saat itu, wayang kulit menjadi pertunjukan yang sangat diminati oleh masyarakat, terutama daerah pedesaan. Masyarakat yang berkecukupan seringkali menggelar pertunjukkan wayang kulit, saat mempunyai hajat, misalnya khitanan, pernikahan ataupun syukuran atas hasil bumi yang melimpah.

Saya masih mengalami masa seperti itu sekitar tahun 90an. Meski tidak memahami cerita secara utuh, karena pertunjukkan digelar semalam suntuk, tapi ada bagian pertunjukkan yang selalu menarik animo masyarakat. Dan salah satu bagian yang paling ditunggu adalah kemunculan tokoh Punakawan, karena kemunculan mereka membawakan humor-humor segar yang mencairkan suasana, sekaligus membawa pesan-pesan moral atau nasehat-nasehat tentang kehidupan.

Bahkan TVRI sebagai satu-satunya stasiun TV di era 80an, memiliki acara komedi bernama Ria Jenaka, dengan latar tokoh Punakawan. Seingat saya, tahun 90an, acara ini masih ada dan saya nonton melalui TV tetangga, setiap hari Minggu. Dalam acara ini, tokoh Punakawan banyak bercerita tentang kondisi keseharian dan konflik yang terjadi di antara tokoh Punakawan. Sebagai endingnya, Semar sebagai ayah, akan mendamaikan anak-anaknya dan memberikan nasihat-nasihat tentang makna kehidupan dan nilai-nilai kebaikan.

Simbolisme Punakawan dalam budaya Jawa
Menelisik asal usul nama Punakawan, ada yang mengatakan bahwa Punakawan berasal dari kata puna dan kawan. Puna artinya susah, ada juga penafsiran lain yaitu pana atau fana, sehingga Punakawan dapat diartikan sebagai kawan atau teman di saat susah atau kawan yang mengajak ke jalan kefanaan.

Penciptaan tokoh Punakawan menurut sejarawan Slamet Muljana, pertama kali disebutkan dalam kitab Ghatotkacasraya, yang dikarang oleh Empu Panuluh, yang hidup di zaman kerajaan Kediri. Namun ada pula masyarakat yang mengatakan bahwa Punakawan diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, seiring dengan dibawanya kesenian wayang kulit sebagai media dalam berdakwah.

Tokoh Punakawan diciptakan sebagai media untuk menjembatani karakteristik dan kondisi sosial ekonomi masyarakat Jawa yang sangat beragam. Cerita pewayangan yang berasal dari India, banyak mengandung muatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti animisme dan dinamisme. Sunan Kalijaga juga memandang bahwa pakem wayang India kurang komunikatif karena penonton hanya duduk menikmati cerita yang dimainkan Dalang semalam suntuk. Maka diciptakanlah Punakawan yang mampu mencairkan suasana dengan banyolannya dan nasihat-nasihatnya yang tidak menggurui namun bisa dipahami oleh masyarakat pada waktu itu.

Tokoh Punakawan dalam pewayangan Jawa, terdiri dari Semar Badranaya, Gareng, Petruk dan Bagong. Ke empat tokoh ini memiliki karakter, dan simbolisme sendiri yang perlu diketahui karena mengandung ajaran budi pekerti yang sangat bagus.

SEMAR BADRANAYA

Ada pendapat yang mengatakan, Semar berasal dari bahasa Arab, yaitu Ismar, namun dalam lidah Jawa menjadi Semar. Ismar berarti paku, yang berfungsi sebagai pengokoh dan perlambang pedoman hidup. Pedoman hidup bagi kaum beriman tentu saja agama. Dalam perspektif inilah lakon Semar diciptakan, dan memiliki berbagai karakter yang baik, seperti rendah hati, tidak sombong, jujur dan nasihatnya menjadi rujukan para ksatria.

Sedangkan Badranaya berasal dari kata Badra dan Naya. Badra artinya kebahagiaan dan Naya artinya kebijaksanaan. Jadi dapat ditafsirkan, Badranaya mengandung makna memimpin dengan bijaksana agar tercapai masyarakat yang bahagia dunia akhirat. Ada juga yang menafsirkan Badranaya berasal dari kata Bebadra, artinya membangun sarana dari dasar dan Naya, artinya utusan mangrasul. Sehingga Badranaya mengandung arti sifat membangun dan melaksanakan semua perintah Alloh demi kebahagiaan dunia akhirat.

Sosok Semar digambarkan memiliki ciri-ciri yang unik. Semar memiliki rambut kuncung seperti anak-anak, yang bermakna sebagai pelayan masyarakat yang ikhlas tanpa pamrih, hanya berharap ridho Alloh. Meski berambut kuncung, Semar berwajah tua, yang mengandung filosofi, bahwa Semar mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dan memiliki kebijaksanaan.

Semar berjenis kelamin laki-laki, namun memiliki payudara, sebagai simbol pria dan wanita.  Tangan kanannya selalu menunjuk ke atas sebagai simbol pengakuan atas Sang Maha Tunggal. Sedangkan tangan kiri menunjuk ke bawah, sebagai simbol seorang hamba yang berserah diri secara total kepada Yang Maha Kuasa.

Ketika berjalan, Semar selalu mendongak ke atas, sebagai simbol agar perjalanan hidup manusia di dunia, agar selalu memandang ke atas (berpedoman) pada Tuhan Yang Maha Esa. Semar pun selalu memakai kain jarik bermotif Parangkusumorojo, sebagai simbol untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.

Semar sering tertawa, namun diakhiri dengan nada tangisan, mata sering mrebes mili (menangis) namun mulut tertawa, sebagai simbol bahwa suka dan duka merupakan bagian dari kehidupan di dunia.

Selain keistimewaan fisiknya, Semar juga memiliki keistimewaan lain. Misalnya, tentang statusnya sebagai abdi (pelayan), meskipun abdi namun Semar memiliki keluhuran seperti para raja. Nasihatnya didengar oleh para ksatria dan raja. Ia sangat arif dan bijaksana, bisa bergaul dengan kalangan bawah sekaligus dengan kalangan atas. Ia juga mengikuti perkembangan zaman.

BACA JUGA : MANFAAT BERCERITA BAGI ANAK BALITA

GARENG

Ada pendapat bahwa Gareng atau Nala Gareng, berasal dari kata Naala Qoriin, yang artinya memperoleh teman banyak, sebagai simbol untuk mendapat teman sebanyak-banyaknya untuk kembali ke jalan Alloh, meski jalan yang dilalui tidak mudah.

Sosok Gareng memiliki perawakan pendek dan selalu menunduk, sebagai simbol untuk tetap berhati-hati dalam menjalani kehidupan dan tetap waspada terhadap godaan duniawi. Gareng juga bermata juling, sebagai simbol ia tidak mau melihat hal-hal yang mengundang keburukan. Tangan Gareng melengkung, sebagai simbol ia tidak mau merampas apa yang bukan menjadi haknya.

PETRUK

Petruk memiliki nama lain yaitu Kanthong Bolong (kantong berlubang), sebagai simbol suka bersedekah, dan menyerahkan jiwa raga secara ikhlas kepada Alloh, tanpa penghalang, seperti kantong yang berlubang tanpa penghalang.

Sosok Petruk digambarkan sebagai sosok yang suka bercanda, baik ucapan maupun tingkah lakunya. Ia juga sosok yang bisa mengasuh, menjadi pendengar, bisa merahasiakan masalah dan bermanfaat bagi orang lain.

BAGONG

Ada yang mengatakan, nama Bagong berasal dari bahasa Arab, Al baghoya, yang berarti perkara buruk. Ia anak ketiga dari Semar. Suatu ketika, Gareng dan Petruk mengatakan kepada Semar, agar dicarikan seorang teman. Maka, ia kemudian berkata, “Ketahuilah, temanmu adalah bayanganmu sendiri.” Selesai berkata seperti itu, muncullah sosok Bagong dari bayangan.

Bagong tumbuh dengan sosok tambun, seperti Semar. Ia suka bercanda, sekaligus memiliki sifat yang lancang. Mata dan mulutnya lebar. Terkadang ia berlagak bodoh serta suka tergesa-gesa. Sifat seperti ini yang mengingatkan kita agar tidak seperti Bagong, tapi mesti memperhitungkan apa yang kita lakukan, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

Sosok Bagong menjadi simbol agar kita sebagai manusia bisa menjalani kehidupan dengan sederhana, sabar dan tidak terpesona dengan kehidupan duniawi. Ia juga sebagai simbol bahwa manusia biasa memiliki kekurangan, tidak ada yang sempurna. Inilah yang mesti dipahami agar kita bisa melihat kekurangan diri, tidak minder dengan keterbatasan yang dimiliki, tapi selalu belajar memaksimalkan apa yang kita miliki. Kekurangan diri kita, juga mengajarkan agar kita bisa bersikap toleran, menerima perbedaan dengan hati lapang dan selalu menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

*Diolah dari berbagai sumber, sebagai catatan pendek untuk selalu belajar memahami simbolisme dari budaya leluhur

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
18 April 2018 01.12 delete

Aku juga suka dengan cerita dan tokoh Wayang. Filosofinya bagus ya,kak.
Di Punakawan ini aku mengidolakan kepribadian tokoh Semar ...,prinsipnya dalam menjalani hidup : selalu harus ingat Tuhan.

Reply
avatar
18 April 2018 17.32 delete

Iyaa setuju kak... rasanya hidup lebih tenang dan tenteram dengan selalu ingat Tuhan ya kak :)

Reply
avatar