Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua

ANAK3.COM - Film Gifted (2017) dan Ambisi Orangtua. Memiliki anak dengan bakat istimewa merupakan anugerah paling indah bagi orangtua. Namun terkadang, tidak demikian bagi anak. Bakat istimewanya membuat kehidupannya justru tertekan, karena ambisi orangtuanya. Setidaknya ini salah satu pesan yang saya pahami dari film gifted (2017). Film ini dirilis tanggal 7 April 2017. Meski sudah lama, menurutku film ini tetap inspiratif dan berkarakter. Sayang kalau dilewatkan.

Kisah ini bermula di sebuah kota kecil, di teluk pantai Florida. Mary, gadis kecil berusia 7 tahun yang tinggal bersama pamannya yang bernama Frank, menunjukkan bakat yang luar biasa dalam bidang Matematika di hari pertama ia sekolah. Mary pun mendapatkan tawaran beasiswa ke sekolah khusus untuk anak-anak berbakat. Ternyata bakat Mary berasal dari ibunya, seorang matematikawan hebat yang berhasil dalam pemecahan masalah Navier-Stokes, sampai akhirnya memilih bunuh diri saat Mary baru berusia 6 bulan dan menyerahkan hak asuh Mary pada kakaknya, Frank.

film gifted (2017)

Frank meyakini bahwa adiknya, ibu Mary, menginginkan anaknya agar menjalani kehidupan normal, menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya. Alasan inilah yang dipakai Frank untuk menolak tawaran beasiswa bagi Mary. Sampai suatu hari, Evelyn, nenek dari Mary dan ibu dari Frank datang berkunjung dan meminta hak asuh Mary. Frank menolak, tapi Evelyn tetap memaksa untuk mengambil hak asuh Mary, apalagi setelah mengetahui bakat Mary seperti ibunya. Evelyn percaya bahwa Mary adalah satu dari satu miliar keajaiban matematika yang harus diajar secara khusus, sebagai persiapan untuk mendedikasikan hidupnya bagi perkembangan matematika.

Perebutan hak asuh Mary pun berlanjut sampai ke ranah pengadilan. Di pengadilan, terungkap sisi kelam kehidupan ibunya Mary, yang tertekan karena pola asuh dari neneknya, Evelyn. Ibu Mary kehilangan masa kecil dan remajanya, karena terpaksa mengikuti ambisi Evelyn untuk menjadikan ibu Mary menjadi salah satu matematikawan terkemuka dengan memecahkan salah satu persamaan matematika Navier-Stokes . Ibu Mary tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan bermain bersama teman-temannya, sehingga pernah kabur dari rumah bersama seorang teman lelaki yang disukainya, untuk sekedar bermain ski. Tekanan psikologis inilah yang mengakibatkan ibunya Mary memilih untuk bunuh diri.

Sebelum bunuh diri, Ibunya Mary berhasil memecahkan masalah Navier-Stokes, namun penemuannya disimpan dan hanya Frank yang mengetahuinya. Sampai akhirnya, Frank memberitahukan kepada ibunya, Evelyn, bahwa adiknya sudah berhasil memecahkan masalah tersebut, tapi ia ingin agar penemuannya disimpan dan baru diumumkan setelah kematian Ibunya. Tentu saja Evelyn shock mendengarnya, ia seolah tak percaya jika putrinya begitu membencinya.

Baca juga : Kisah Pencarian Jati Diri Anak

Endingnya, film ini mengakomodir perspektif bahwa anak jenius harus diajar secara khusus, sekaligus bahwa anak jenius pun perlu menikmati masa kecilnya seperti anak-anak normal lainnya. Di akhir film, ada scene Mary mengikuti kuliah bersama mahasiswa dewasa di sebuah Universitas, dan setelahnya Mary pergi ke sekolah biasa dan bermain bersama teman-temannya.

***

Saya baru mengerti bahwa faktor genetik seorang ibu sangat berpengaruh dalam mewariskan kecerdasan pada anak.  Menurut Dr. Ben Hamel, ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, pengaruh tersebut sangat besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibunya. Jadi terbukti shahih ya, bahwa kecerdasan diwariskan, namun begitu pengaruh lingkungan dan pola asuh juga ikut berperan dalam membentuk kecerdasan anak hingga dewasanya. Info penting nih, buat para lelaki yang masih jombo, carilah wanita yang cerdas karena ibu yang cerdas, berpotensi besar melahirkan anak-anak yang cerdas pula...hihi

Bagiku, film ini sangat menarik karena memberikan perspektif bahwa orangtua harus menyayangi anaknya secara benar. Jangan sampai ambisi orangtua menghancurkan kebahagiaan anak. Mungkin ini bisa terjadi di sekeliling kita. Orangtua sangat berambisi agar anaknya sukses dan berprestasi secara akademik. Beragam cara ditempuh, dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai les. Jika anaknya berprestasi, tentu orangtuanya ikut mendapat sanjungan sebagai orangtua yang hebat, orangtua yang berhasil mendidik anaknya. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang membersamai anak-anak agar tumbuh kembang dengan baik. Aamiin

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

6 komentar

komentar
24 Mei 2018 20.20 delete

Iya mba, yang aku tau dari baca baca juga kecerdasan diturunkan dari gen ibu. Aku juga tau beberapa film seperti ini yang memang end up nya suicide, tidak menikmati hidup kesian yaa :( untung anak nya sama si frank

Reply
avatar
24 Mei 2018 23.20 delete

Iya kak, semoga saja di kehidupan nyata, banyak orangtua yang meneladani Frank dlm membersamai anak-anak yg berada dibawah tanggungjawabnya

Reply
avatar
27 Mei 2018 18.46 delete

Baru tahu kalau kecerdasan itu diturunkan dari ibunya. Hm, saya juga penasaran belum nonton film ini. :)

Reply
avatar
27 Mei 2018 18.48 delete

Film ini sepertinya sangat menginspirasi ya, saya penasaran bagaimana filmnya. Pingin nonton. :D

Reply
avatar
28 Mei 2018 00.12 delete

Coba tonton deh mbak. Kalo suka dengan dunia anak, kayaknya sih bakalan suka dengan film ini :)

Reply
avatar
28 Mei 2018 00.14 delete

Iya kak Tika, menurutku sih menginspirasi :) Coba deh ditonton, banyak kok situs streaming hihi

Reply
avatar