Pentingnya Mengenalkan Matematika pada Anak Sejak Dini

ANAK3.COM - Pentingnya Mengenalkan Matematika pada Anak Sejak Dini. Setiap anak adalah pribadi yang unik. Mereka berkembang secara berkesinambungan, artinya tingkat perkembangan anak pada suatu tahap dapat berkembang dengan baik dan meningkat secara optimal pada tahap selanjutnya. Anak-anak usia 3-5 tahun mengalami perkembangan kemampuan berpikir dan bernalar yang sangat cepat. Pada periode ini, anak-anak mulai berpikir tentang simbol, memahami bilangan dan berpikir secara semilogis (Seefeldt & Wasik, 2008; 385)*.

Perkembangan pengetahuan pada usia dini sangat memungkinkan anak memahami konsep-konsep dasar matematika. Pengenalan matematika sejak dini sangat penting dilakukan karena pembelajaran matematika pada anak memiliki tujuan untuk melatih kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif serta kemampuan bekerjasama. Tentunya kemampuan bernalar yang dimiliki anak melalui proses belajar matematika, akan meningkatkan pula kesiapannya untuk menjadi lifetime learner atau pembelajar sepanjang hayat. Kemampuan tersebut juga nantinya dapat mempersiapkan anak menghadapi persaingan di era industri 4.0, yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi informasi.

Mengenalkan Matematika pada Anak Sejak Dini

The National Council of Teachers of Mathematics (2000) dalam Seefeldt & Wasik (2008; 405) mengemukakan bahwa pondasi bagi pengetahuan matematika harus dimulai pada tahun-tahun dini. Pendapat senada dikemukakan Principles and Standards for school Mathematics (2000) dalam Seefeldt & Wasik (2008) yang menyatakan; dasar bagi perkembangan matematika anak-anak dibangun pada tahun-tahun dini.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika penting diberikan sejak dini agar anak mampu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan matematika yang memungkinkan mereka untuk hidup dan bekerja pada masa depan yang menekankan pada kemampuan memecahkan masalah.

Pengetahuan matematika awal mencakup beberapa konsep yang perlu dipelajari anak usia dini. Salah satunya adalah tentang mengenal konsep pola. Kemampuan tersebut mendasari semua pemikiran matematika dan memiliki hubungan dekat dengan bidang isi matematika, seperti jumlah, geometri, pengukuran, dan data. Konsep pola juga membantu dalam kurikulum ilmu pengetahuan, seni, bahasa, musik, dan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, dari tahun-tahun awal anak, pola sangat mendasari perkembangan anak dari dalam maupun luar kurikulum matematika karena membantu anak-anak dalam memahami dunia mereka sehari-hari (Fox, 2005: 314)**.

Baca juga : 7 Manfaat Berlatih Beladiri Bagi Perkembangan Karakter Anak

Tentu saja tidak mudah mengenalkan matematika pada anak. Sebagian orangtua dan juga anak merasa kesulitan dalam pembelajaran matematika, hal ini dikarenakan materi pelajaran matematika erat kaitannya dengan kemampuan berpikir abstrak. Kemampuan berpikir abstrak adalah kemampuan untuk memecahkan masalah tanpa hadirnya objek permasalahan itu secara nyata, atau dengan kata lain melakukan kegiatan berpikir secara simbolik atau imajinatif terhadap objek permasalahan itu.

Karena itu, untuk mempermudah anak belajar memahami matematika, maka orangtua harus memulainya dari konkrit (nyata) menuju abstrak. Misal, jika orangtua akan mengenalkan penjumlahan bilangan sederhana “1 + 2 = 3”, sebaiknya tahapan yang dikenalkan adalah sebagai berikut:
  1. Ambil contoh benda yang dapat mewakili bilangan 1 dan bilangan 2, misalnya jeruk, kelereng, apel, dan sebagainya.
  2. Lakukan penggabungan antara satu jeruk dengan dua jeruk menjadi satu wadah, mintalah anak untuk menghitung satu persatu jeruk yang sudah dimasukan ke satu wadah tersebut.
  3. Tulislah kejadian tersebut dalam kalimat: “satu jeruk digabungkan dengan dua jeruk menjadi tiga jeruk” atau “satu jeruk ditambah dengan dua jeruk menjadi tiga jeruk”
  4. Lakukan penggunakan lambang bilangan dan simbol-simbol/lambang-lambang matematika yang digunakan, seperti: “1 jeruk + 2 jeruk = 3 jeruk” (catatan: dalam menjumlah atau mengurang jangan mengambil contoh benda yang berbeda, misalnya: 1 jeruk + 2 apel = ?)
  5. Gunakan kalimat matematika yang sebenarnya, yaitu : 1 + 2 = 3
  6. Mintalah anak untuk membuat kalimat biasa dari kalimat matematika “1 + 2 = 3” yang lainnya, misalnya yang sedang dibicarakan adalah kelereng atau pisang.
Tahap (5) dari contoh di atas merupakan bentuk abstrak, karena kalimat matematika “1 + 2 = 3” dapat diterapkan dalam berbagai kasus atau kejadian. Dan yang terpenting adalah dibutuhkan kesabaran orangtua dalam membimbing dan mengenalkan matematika agar anak tetap enjoy dan merasakan bahwa belajar matematika sangat menyenangkan.

*Seefeldt, C & Wasik, B.A. (2008). Pendidikan anak usia dini: menyiapkan anak usia tiga, empat, dan lima tahun masuk sekolah, edisi kedua. Terj. Nasar Pius. Jakarta: Indeks. (Buku asli diterbitkan 2006)
**Fox, J. (2005). Child-initiated Mathematical Patterning in The Pre-compulsory Years. In Chick, H. L. & Vincent, J. L. (Eds.). Proceedings of the 29th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 2, pp. 313-320. Melbourne: PME

Pembelajar sepanjang hayat, anak3, masih belajar menekuni blogging meski berkejaran dengan kesibukan di dunia nyata.

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
31 Desember 2018 20.45 delete

Sepakat bgt, kl mau kasih pengenalan matematika kepada anak bisa dg ambil contoh yg sederhana, bisa menggunakan apa yg ada di sekeliling mereka sebagai analog :)

Reply
avatar
1 Januari 2019 17.39 delete

(y) mba Ella, intinya mulai dari hal yang sederhana

Reply
avatar